Sesaat aku terkejut ketika Yuyun telah menanggalkan busananya di
hadapanku, aku hanya terdiam diri dengan terpaku oleh keindahan
tubuhnya. Yuyun adalah kakak pacarku yang bernama Naning. Kami sering
berbicara, jalan-jalan bareng, makan, dan lain-lainnya. Mungkin aku
sudah dianggap keluarga, makanya setiap aku berkunjung ke rumah
Naning sudah seperti rumah sendiri. Masuk sesuka hati dan melakukan
apa saja tidak apa-apa sebatas itu kewajaran.Yuyun sudah memiliki
suami, tetapi entah kenapa hubungan mereka tidak harmonis layaknya
sepasang suami istri. Aku mengetahuinya setelah Yuyun menceritakan
kisah kehidupannya, dan hampir sering diceritakan apa yang terjadi
setiap harinya. Karena Yuyun selalu menelepon ke rumahku, itu biasa
dilakukannya apabila dia sedang bekerja di kantor pada saat jam
istirahat.
Kejadian ini bermula ketika dia berkunjung ke rumahku, sebelumnya dia
meneleponku apa aku ada di rumah atau tidak.
"Dhun... hari ini apa tidak ada acara?" tanyanya kepadaku.
"Tidak ada sih, emangnya ada apa Yun?" tanyaku balik.
"Nggak pa-pa, kalau tidak ada boleh nggak aku maen ke rumahmu?"
sambungnya.
"Oh, nggak pa-pa.. kalau maen ke rumah, silakan aja," jawabku.
"Tapi saya datangnya sendiri, nggak bersama adikku (maksudnya
Naning)."
"Oh ya, kutunggu ya.." jawabku.
Setelah telepon ditutup, aku hanya diam sambil mengerutkan dahi,
memikirkan ada apakah gerangan. Mudah-mudahan saja tidak ada sesuatu
yang terjadi ucapku dalam hati, dan aku bersiap menyambutnya dengan
membersihkan kamarku. Perlu diketahui bahwa aku dan Naning sering
bermain seks di kamarku, dan itu hampir setiap hari apabila Naning
sepulang kuliah mampir ke rumahku untuk mengambil jatah. Barang-
barang Naning kusembunyikan agar sang kakak tidak mengetahui ada
barang adiknya, seperti kutang, celana dalam, baju dan semua
keperluan wanita ada di kamarku.
Kamar belum selesai kubersihkan kudengar ada yang datang, aku
terkejut rupanya yang datang adalah Yuyun. Langsung aku gelagapan
dengan kedatangannya, kupikir paling agak siangan datangnya.
Sedangkan aku belum mandi dan masih ada pekerjaan lain yang harus
kuselesaikan, di rumahku apabila pada pagi hari sampai sore rumah
dalam keadaan kosong, hanya aku yang ada di rumah.
"Wah, lagi membersihkan kamar ya?" tanyanya yang membuatku terkejut,
karena persis di hadapan wajahku dia berbicara begitu aku membalikkan
badan. Harumnya sampai tak bisa kulupakan sampai sekarang, adiknya
saja harumnya sudah membuatku terlena apalagi sang kakak yang sudah
berpengalaman dalam hal mengurus tubuh.
"Iya nih, lagi bersih-bersih," jawabku, "Nggak kerja nih Yun?"
tanyaku.
"Iya, ntar lah belom lagi, kali-kali telat nggak pa-pa kan?" jawabnya
dengan suara menggoda sambil melangkahkan kaki ke dalam kamarku.
Yuyun langsung duduk di atas kasur dengan mengepitkan kedua pahanya
bersilang, terlihatlah paha putih mulus di hadapanku. Dengan
berpakaian dinas yang dikenakannya saja sudah membuatku berdegub
kagum apalagi tanpa mengenakan busana? tanyaku dalam hati. Aku hanya
dapat berimajinasi membayangkan yang ada di hadapanku. Sambil
berjalan di hadapannya aku bertanya, "Gimana kabarnya Mas Patria?"
Yuyun merebahkan badan di atas kasur dan menjawab, "Nggak tahulah
Dhun, mungkin aku mau minta cerai aja."
Aku berkata, "Jangan langsung begitu dong Yun.. ntar gimana dengan
keluargamu dan juga dengan dirimu sendiri?"Jawabnya hanya
singkat, "Nggak tahulah.. aku sudah pusing dibuatnya, Dhun. Mending
kita omongin yang lain aja," ajaknya.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil mendekatinya kira-kira 1 meter
dari tempat dia tidur.
"Oh ya, mau minum apa nih?" tanyaku.
"Terserah aja Dhun, kalo bisa yang hangat-hangat, soalnya pagi itu
dingin sekali."
Aku langsung menuju dapur untuk menyiapkan minumannya, setelah itu
aku balik ke kamar. Kulihat dia membersihkan kamarku, kulihat dari
belakang indah sekali tubuhnya yang dilapisi dengan pakaian kerja
yang ketat.
"Aduh.. jangan dibersihkan.. entar aku aja yang bersihkan, ngerepotin
aja nih." kataku sambil menaruh minuman hangat di atas meja.
"Ngak pa-pa.. kok, itung-itung amal," katanya.
"Diminum airnya ya, aku mau mandi dulu, nggak enak nih baunya,"
kataku.
"Ya.. silakan aja mandi dulu ntar kita bicaranya biar bisa lebih
seger." jawabnya.
Aku berjalan menuju kamar mandi sambil terburu-buru meninggalkan
kamarku, dalam hatiku asyik juga pagi-pagi sudah ada yang nyamperin,
cewek cantik lagi. Kataku dalam hati.
Begitu selesai mandi aku langsung berlari menuju ke kamarku, alangkah
terkejutnya aku apa yang kusaksikan tepat di depan mataku. Aku hanya
terdiam menyaksikan pemandangan yang ada di hadapanku, sampai-sampai
aku tidak sadar bahwa aku masih agak separuh basah dengan handuk
hanya menutup bagian alat vitalku. Yuyun tepat berdiri di depanku
dengan mata yang bersinar, aku terdiam sejenak. Bermimpikah aku ini?
Ternyata tidak, Yuyun menarik handukku dan berkata, "Nah sekarang
kita udah sama-sama tanpa busana kan?" Katanya sambil menarik
tanganku menuju tempat tidur. Aku hanya terdiam sambil mengikutinya
tanpa tahu harus berbuat apa, dan bingung melihat Yuyun seperti ingin
melahapku. Aku dihempaskan di atas kasur dan langsung menindih
tubuhku, tubuhku yang dingin terasa hangat seketika karena suhu tubuh
Yuyun mengalir di sekujur tubuhku. Yuyun sambil menggerakkan
pingulnya seakan ingin membangkitkan gairahku, sebenarnya dari
pertama kali Yuyun datang aku sudah bernafsu sekali ingin menikmati
tubuhnya, tapi karena dia calon kakak iparku, aku hanya bisa
menghayalkan untuk bisa menikmatinya. Tapi sekarang Yuyun tepat di
atas tubuhku sambil menjilati tubuhku yang setengah basah oleh air.
Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu, tapi dalam benakku, ini
adalah kesempatanku atau suatu ujian untukku?
Melihat Yuyun dengan nafsunya yang membara, aku tidak mau kalah
dengan permainannya. Aku langsung mengangkat tubuhnya ke atas, dan
langsung melumat bibirnya. Sejenak kami berhenti melakukan aktifitas,
dan Yuyun berucap, "Puaskan aku Dhun." katanya dengan nafas setengah
berhenti. "Ya Yun.." kataku dengan kata yang membingungkan.
Selanjutnya kami melakukan pergumulan yang tak terbendung lagi,
karena kami sama-sama haus kenikmatan.
"Apakah Naning tidak marah dengan perbuatan kita ini Dhun?" tanyanya
sambil menatap mataku.
Jawabku hanya singkat, "Tak usah dipikirkan, aku akan membuat kamu
puas dan tak akan pernah kamu lupakan."
"Benar Dhun?" tanyanya lagi.
"Yaaa.." dan aku langsung melahap puting susunya yang sudah
menantangku sejak tadi. Tangan kananku bergerak ke paha dan bokongnya
yang berisi, empuk ntah apa namanya, tanganku terus bergerak untuk
mencari-cari daerah yang membuatnya nikmat dan membuatnya nyaman.
Sedangkan tangan kiriku sudah sedari tadi menempel di susunya yang
montok, dan mulutku terus memainkan lidah di puting susunya. Kulihat
Yuyun sudah mulai terangsang, dengan mendengarkan suaranya yang
menahan kenikmatan yang dirasakanya. "Sssstt.. ach.." terdengar dari
mulutnya yang masih terlihat merah meskipun agak memudar dengan
lapisan lipstiknya. Tapi kuyakin bahwa dia merasakan nikmat dengan
perlakuanku seperti ini.
"Teruskan Dhun, yang keras isapnya, teruskan.." dengan nafas terputus-
putus, aku semakin menegang dengan gerakannya yang seperti orang
kehilangan kendali. Sekali-kali aku menjilati lehernya dan daun
telinganya, dan aku tidak berhenti sampai di situ, kulihat dia seakan
sudah menyerahkan segala kendali permainan kepadaku, dengan leluasa
aku menjilati bagian wajah sampai payudaranya. Kurasakan Yuyun
memegang kemaluanku dengan tangan kanannya, kemudian dia
berucap, "Wah besar juga punyamu Dhun..." sambil menggerakkan
tangannya dengan cara mengocokkan kemaluanku. Setelah keadaan sudah
memungkinkan, aku memerintahkan dia untuk menjilati kemaluannku. Dan
Yuyun langsung mengarahkan wajahnya ke kemaluanku, dengan sedikit
agak takut Yuyun mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya, dan
itu kunikmati dengan nikmatnya. Kemudian tangan kananku kuarahkan
meraih susunya yang menjuntai seperti buah mangga yang masih hijau,
tak berapa lama berganti dia mengarahkan kemaluannya ke arah mulutku.
"Ayo Dhun dijilat," katanya, sambil menggoyangkan pinggulnya. Aku
melihat rerumputan lebat tepat di hadapanku, langsung saja kulumat
dengan nikmatnya. Yuyun mengerang agak keras supaya aku lebih dalam
menjilati kemaluannya, kurasakan banyak sekali cairan yang agak masin
tapi tidak begitu masin, entah apa rasanya yang jelas aku terus
menjilati, terutama bagian saluran kemihnya. Yuyun menjerit, "Aachh..
enaknya Dhun.. aku udah nggak kuat nihhh..." sambil dikepitkan kedua
pahanya di wajahku dan kurasakan banyak cairan mengalir deras.
Setelah itu Yuyun mulai kembali seperti orang kehilangan kendali,
dengan sigap Yuyun mengambil alih posisi permainan. Diarahkan
kemaluanku dengan kemaluannya, sementara aku di bawah mencari arah
yang tepat untuk bisa meluncur ke dalam kemaluannya. Dengan sedikit
gerakan aku sudah bisa menemukan lubang masuknya dan dengan
perjuangan agak keras untuk memasukkannya.
"Aduh.. besar sekali sih, jadi sulit masuknya," ucap Yuyun kepadaku
sambil menahan dengan bibir digigit. Aku tidak tahu kalau punyaku
besar, mungkin karena Yuyun biasa melihat punya suaminya yang lebih
kecil dari punyaku.
"Iyaa Dhun, punyamu lebih besar dari punya patrol," katanya dengan
memejamkan mata seakan ingin menghabiskan seluruh tenaganya.
"Masa sih.." jawabku, dan aku terus menyuruh dia untuk menggoyangkan
pinggulnya.
"Trus Yun.. enak Yun.. Sssttt..." dengan menghisap nafas dari mulutku.
"Achh Dhun.. enak sekali nihh, aku udah nggak tahan lagi.."
Aku merasakan bagian kemaluanku seakan terjepit terlalu keras,
mungkin dikarenakan punyaku memang besar. Tapi memang kuakui kemaluan
Yuyun begitu enak sekali, lembut seperti ada yang menggigit dari
dalam.
Yuyun mulai kelihatan seperti hendak mencapai orgasme, "Dhun.. achh..
Dhunn.. enaakk.." Aku terus menghentakkan pinggulku dari bawah ke
atas, dan itu membuat Yuyun semakin menggelinjang dengan menjambak
rambutnya. "Ahh.. udahh nggak tahan.. aku keluar nihh.. Dhun..
aaahh.." dengan jeritan agak panjang Yuyun mendekap tubuhku dengan
kukunya mencakar punggungku. Sesaat Yuyun terdiam mengejang,
sementara kurasakan di kemaluanku terasa sesuatu cairan mengalir,
secara perlahan kumainkan pinggulku agar senjataku tetap pada
kondisinya. Yuyun bangkit dan berkata, "Aku ingin lagi Dhun.. dan ini
aku ingin permainan kita yang lama yaaa.." Aku hanya menganggukkan
kepala saja sebab mau bilang apa karena itu juga yang kuinginkan.
Sekarang kuambil alih posisi permainanku, Yuyun di bawah dan aku
beraada di atasnya. Kedua kaki Yuyun kurentangkan ke samping, dan
tampaklah rerumputan yang agak lebat tapi jelas terlihat kemerah-
merahan. Tanpa menunggu aba-aba, Yuyun telah siap menerima kedatangan
senjataku dengan menggerakkan sedikit agar lancar masuknya. "Cepetan
Dhun masukkan, aku udah nggak sabar nih.." katanya sambil setengah
memejamkan mata. Aku hanya diam tidak mendengarkan lagi kata-katanya.
Pelan-pelan aku menggerakkan senjataku maju mundur secara teratur.
Erangan suaranya terdengar sayup tapi membuat gairah seksku
bertambah, begitu kugerakkan maju, "Aaaachh.. duuhh.." begitu suara
yang terdengar dari mulutnya. "Aduh Dhun.. aku udah nggak kuat nihh..
cepetan yaa.. aku udah nggak tahan." katanya dengan tangan
menggenggam sprei kasurku. "Iya.. bentar lagi nihh.. aku juga mau
keluar," kataku balik. Aku terus melancarkan senjataku makin lama
makin cepat kugerakkan senjataku. "Aacchhh Dhunn.. aaadduuhh nggak
tahan lagiii.." dan dengan gerakan semakin cepat akhirnya kurasakan
rangsangan pada kemaluanku yang akan mengeluarkan lahar panas. "Yun,
aku mau keluar nihh.." kataku terputus-putus. "Yaaa, bareng kita
keluarnya yaaa.. aaachhh.. sssttt.. nggak tahan nihh.. satu..
duaaa.." Yuyun menghitung dengan jarinyaa dan, "Tiigaaa.. aaahhh..
Dhunn.." dan, "Yuuunnn.. aaahhh.." aku mengeluarkan spermaku di dalam
vaginanya, sesaat aku dan Yuyun terdiam setelah himpitanku ke tubuh
Yuyun, kemudian aku membalikkan badanku. Entah kenapa senjataku
dihisap oleh Yuyun dan membersihkannya.
"Terima kasih ya Dhun, kamu telah memuaskanku," katanya.
"Ohh.. aku yang berterima kasih dong," jawabku.
"Kamu nggak akan memberitahukan kejadian ini ke adikku kan?" tanyanya.
"Untuk apa aku menceritakan ini? Toh nggak ada untungnya kan?" kataku.
Sejak kejadian itu setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Yuyun
selalu mampir ke rumahku dan yang jelas pasti kami berdua
melakukannya.
Desahan Yuni..Customerku..
Saat ini aku hampir menjadi seorang insinyur elektro, sekarang sedang
menunggu wisuda. Sambil menunggu wisuda, aku dan beberapa temanku
membuka toko komputer. Kejadian ini terjadi pada bulan Agustus 2000.
Pagi itu sekitar jam 10 pagi, aku sedang membuat proposal penawaran
untuk pemda Wonogiri. Sebuah Vitara putih tiba-tiba masuk di halaman
kantorku, seorang cewek WNI keturunan berumur sekitar 20 tahun,
tinggi sekitar 165 cm mengenakan kaos ketat warna biru muda keluar
dari dalam mobil.
"Selamat pagi Mas", katanya.
"Selamat pagi, silakan duduk.., Ada yang dapat saya bantu?", sahutku
sambil bersalaman dan menyiapkan sebuah kursi yang masih berada di
pojok ruangan. Terasa dingin dan sangat lembut ketika aku meremas
tangannya.
Singkat cerita dia setuju membeli seperangkat komputer pentium
III/550 multimedia dan sebuah bjc-2000 yang saat itu seharga 6,6 juta.
"Ini saya baru bawa 5 juta, sisanya besok bisa Mas?", tanya dia.
"Oh.., nggak apa-apa", jawabku, sebenarnya dengan uang muka seratus
ribu pun aku juga bersedia.
"Maaf, Mbak namanya siapa, ini untuk mengisi kwitansinya", tanyaku.
"Yuni, lengkapnya Yuni *****", sahutnya. Dia juga memberikan alamat
dan nomor HP-nya.
Saat itu juga setelah kuselesaikan pembuatan penawaran, aku langsung
merakit komputer yang dia pesan. Dalam tiga jam aku selesai merakit
plus menginstall program yang diperlukan. Satu jam kemudian setelah
aku selesai makan siang yang sudah agak sore, aku iseng-iseng telepon
Yuni.
"Mbak.. ini komputer yang Mbak pesan udah selesai, sewaktu-waktu
dapat diambil", kataku membuka pembicaraan.
"Aduh cepat sekali Mas, ini saya juga baru ngambil uang di bank, oh
ya Mas.. sekalian modemnya ya.. nambah berapa?", tanyanya.
"Kalau internal Motorola 140 ribu Mbak", jawabku.
"Ya udah yang itu saja, tetapi tolong Mas yang pasangkan ke rumah
saya, masalahnya saya nggak bisa masang sediri..", pintanya.
"Ya.. kalo begitu nanti jam 7 malam saya akan datang ke rumah Mbak",
Sahutku.
Selesai mandi aku membayangkan wajah Yuni, mirip dengan salah satu
bintang film mandarin tapi siapa aku tidak tahu namanya. Berwajah
oval, rambut sebahu berhigh light merah, kulitnya yang putih bersih
benar-benar sangat manis. Selesai berdandan dan sedikit minyak wangi,
aku menyalakan Suzuki Carretaku dan meluncur ke perumahan Solo Baru,
sebuah kompleks perumahan yang cukup elite di kota Solo.
Setelah sepuluh menit berkeliling kompleks, akhirnya aku menemukan
alamatnya. Terlihat Vitara putih di dalam garasi yang tidak tertutup,
setelah yakin alamatnya benar maka aku pencet bel yang berada di
balik pagar besi yang terkunci. Seorang perempuan setengah baya
keluar dan membuka pintu pagar sambil berkata, "Mas yang mau ngantar
komputer ya, silakan masuk dulu Mas, Mbak Yuni baru mandi". Aku tidak
langsung masuk tetapi mengambil barang-barang pesanan Yuni dan aku
letakkan di teras depan. "Barang-barangnya disuruh langsung dipasang
ke kamar Mbak Yuni Mas", perempuan itu menyusulku ke mobil saat aku
mengambil barang terakhir, yaitu keyboard, mouse dan nota
penjualan. "Ini kamar Mbak Yuni", kata perempuan itu sambil
mengantarkanku menuju ke suatu ruangan berukuran 4 x 4 meter. Tidak
terlalu luas tetapi cukup tertata rapi dan barang-barang yang lumayan
mewah menghiasi kamar. Bau parfum ruangan berjenis apple samar-samar
tercium hidungku. Tanpa membuang waktu aku merakit komputer di meja
yang telah dia siapkan sebelumnya.
Saat merakit instalasi printer, Yuni masuk kamar, tercium harum bau
sabun mandi. Terlihat Yuni hanya mengenakan daster warna kuning tanpa
ritsluiting dan tanpa lengan baju (model you can see). Lengannya yang
putih mulus dan bentuk badannya yang ramping mengigatkanku pada Novi
(cinta pertama) tetapi badannya lebih gedean Novi sedikit. Sesaat aku
terdiam memandangnya, dia hanya tersenyum saja memperlihatkan giginya
yang putih dan berjajar rapi.
"Udah selesai Mas?", tanyanya membuatku sedikit kaget.
"Oh.. sebentar lagi Mbak, ini baru pasang printer", jawabku.
"Mas, jangan panggil aku Mbak, panggil saja Yuni", katanya.
"Kamu kuliah di mana?", tanyaku.
"Di Akademi **** (edited), semester 3", jawabnya.
"Stop kontaknya mana Yun?", tanyaku.
"Itu di bawah meja", jawabnya.
"Kok sepi, di mana ortumu?", tanyaku.
"Aku di sini tinggal bersama kakakku, Papi sama Mami tinggal di
Surabaya, kakakku sudah tiga hari di Semarang ikut seminar untuk
syarat mengambil dokter spesialis", jelasnya.
"O.. kakakmu dokter ya.., terus perempuan itu pembantumu?", aku terus
bertanya.
"Iya, dia membantu dari pagi sampai jam 7 malem setelah itu pulang ke
rumahnya kira-kira 300 meter dari sini", jelasnya.
"Nah.. udah siap silakan kalo mau coba", kataku setelah layar monitor
memperlihatkan logo WIN 98.
"Oh ya.. Mas mau minum apa?", tanyanya setelah menunggu logo WIN 98
berubah menjadi gambar Titanic.
"Ah.. apa aja mau kok", kataku sambil tersenyum.
Dia berjalan keluar kamar, saat dia berjalan itu samar-samar kulihat
pantatnya yang tidak terlalu besar tetapi terlihat padat dan kenyal.
Dia kembali dengan membawa segelas es jeruk dan meletakkan di samping
ranjangnya yang memang terdapat meja kecil dan sebuah telpon.
"Wah sayang aku belum ngedaftar ke ****net ", katanya.
"Oh.. kamu mau nyoba pakai internet, kalo gitu untuk sementara kamu
boleh pakai punyaku", kataku sambil aku mulai mengisi user name dan
password.
"Eh.. Mas.. kalo mau lihat gambar-gambar artis Indonesia yang
telanjang alamatnya di mana sich", katanya tanpa malu-malu.
Selanjutnya kuberi tahu alamat-alamat situs porno sambil aku
memperlihatkannya. Terlihat Yuni Shara sedang bercinta dengan
seseorang, melihat adegan tersebut matanya yang agak sipit dan bening
terus melotot sambil menelan ludah, aku hanya tersenyum menyaksikan
ekspresi wajahnya yang lucu sangat manis terpaku memandangi adegan
itu.
"Kalo kamu mau baca cerita-cerita erotis, ada di sini..", kataku
sambil mengetik www.17tahun.com dan mulai masuk ke salah satu cerita
erotis, dengan seksama dia membacanya dan aku juga membaca tentunya.
Saat dia tengah membaca, dia mendekatkan kursinya di sampingku sambil
sesekali dia meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang lain.
Dan batang kemaluanku pun mulai bereaksi dan.. aduh, kelihatan sekali
kalau batang kemaluanku sedang tegang. Dia melirik ke bawah, aku
berusaha menyembunyikannya, dan dia hanya menarik nafas dalam-dalam
sambil tersenyum kecil.
Setelah beberapa saat berselancar keliling dunia, kuputuskan hubungan
ke internet.
"Mas.. ini udah bisa dipakai nonton film?", tanyanya.
"Iya, kamu punya CD (compact disk) film nggak", tanyaku sambil aku
berusaha menempatkan batang kemaluanku agar berada pada posisi
vertikal setelah terangsang dengan cerita tadi.
"Sebentar, aku carikan dulu ke kamar kakak", jawabnya sambil keluar
kamar.
"Ada sich, tapi.. adanya ini punya kakak", dia berkata sambil
memperlihatkan VCD semi porno dengan judul Kama Sutra versi Barat.
"Ya.. nggak apa-apa kan cuma nyoba, tapi pembantumu tadi di mana?",
tanyaku sambil melongok ke arah pintu.
"Oo.. dia udah pulang tadi waktu aku selesai mandi dan masuk ke
sini", jawabnya.
Terlihat adegan yang sangat romantis pada layar monitor, tidak
seperti film-film porno lain, adegan dalam film ini sangat lembut dan
romantis. Sebenarnya aku sudah terbiasa menonton film-film seperti
ini, tetapi jika ditemani makhluk manis seperti ini jantungku
berdebar sangat kencang. Sesekali kulirik dia yang sedang menyaksikan
adegan tersebut. Terlihat sesekali dia membasahi bibirnya yang
berwarna merah delima dengan lidahnya. Ingin sekali sebenarnya aku
mencium bibirnya. Baru sekali aku merasakan bersetubuh dengan pacar
pertamaku, dan keinginan itu saat ini sangat menggebu. Kulihat Yuni
mulai sering menggerakkan kakinya naik turun. Aku hanya menarik nafas
panjang dan kumundurkan kursiku sehingga berada sedikit di belakang
Yuni. Karena aku sudah tidak tahan lagi, dengan agak takut
kusenggolkan kakiku dengan kakinya.
Tidak kuduga sama sekali dia hanya diam, tanpa menungu lebih lama
lagi kakiku mulai naik turun di betisnya. Karena dia sepertinya tidak
keberatan kuperlakukan seperti itu, kuberanikan tanganku untuk
memegang tangannya dan dia juga menyambutnya dengan meremas tanganku.
Akupun mulai lebih berani, kuraba dadanya yang tidak begitu besar
tetapi sangat kencang dan padat terasa cukup keras. Saat kuraba
payudaranya terlihat dia terpejam sepertinya sedang menikmati apa
yang sedang kulakukan. Tangannya yang putih bersih mulai merayap
menuju pahaku, aku semakin terangsang hebat. Sementara tanganku masih
rajin meraba payudaranya, dan dia terpejam, perlahan kucium bibirnya,
kuhisap dengan lembut dan lidahku pun mulai masuk di antara gigi-
giginya yang putih berjarar rapi. Masih berasa pasta gigi saat
lidahku melumat bibirnya. Selanjutnya dia pun membalas dengan
memainkan lidahnya ke dalam mulutku. Lembut sekali bibir dan lidahnya.
Setelah beberapa saat aku menikmati bibirnya yang mungil, ciumanku
mulai berjalan menuju ke telinganya. Saat aku mungulum telinganya,
dia mendesah dan mengangkat kepalanya, sepertinya dia kegelian.
Kulepaskan ciumanku dan aku mulai mencumbu lehernya yang putih dan
berbau harum sabun mandi, sementara tanganku masih terus meraba
payudaranya dengan lembut. Perlahan ciumanku aku turunkan di dada
bagian atas dan tanganku mulai melepaskan tali yang mengantung pada
lengannya. Setelah aku berhasil melepaskan tali dari dasternya, maka
daster bagian atasnya mulai menurun dengan sendirinya. Terlihat bukit
yang masih tertutup BH berwarna krem. Saat aku mulai mencium
payudaranya bagian atas, perlahan-lahan dia berdiri dan spontan aku
menarik ciumanku, agak takut aku waktu itu, kupikir dia akan marah.
Tetapi setelah dia berdiri tegak, semua dasternya melorot ke bawah
dan tampak dia berdiri setengah telanjang hanya menggenakan BH dan
celana dalam berwarna putih. Sepertinya dia tidak marah malah dia
tersenyum kecil, saat itu aku berpikir mungkin dia penganut aliran
seks bebas. Ah masa bodoh, yang penting keinginanku dapat kesampaian
dan aku tidak memaksanya.
Perlahan aku mulai berdiri di hadapannya, kupandangi tubuhnya yang
setengah telanjang dengan seksama. Indah sekali tubuhnya, dari wajah
sampai ujung kaki semuanya berbalut kulit berwarna putih bersih khas
kulit WNI keturunan. Perlahan kudekati dia dan kucium bibirnya untuk
yang kesekian kalinya. Senang sekali aku menikmati bibirnya yang
mungil dan berwarna merah delima. Sambil aku melumat bibirnya kupeluk
dia sampai tubuh kami saling menyentuh. Tanganku yang berada di
punggungnya mulai berusaha melepaskan BH, tapi sulit bagiku, aku
tidak berhasil karena BH yang dia pakai lain dengan yang pernah
dipakai Novi. Sepertinya dia tahu kalau aku kesulitan membuka BH-nya,
dan akhirnya dia sendiri yang membuka. Setelah BH-nya terlepas
terlihat dua buah bukit yang berwarna putih dengan puting berwarna
coklat muda menggantung dengan kencang.
Kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan dia ke sisi tempat tidur.
Saat itu dia berada di atas tempat tidur dan aku berada di lantai.
Perlahan kuraba payudara bagian kiri dengan tangan kananku, sementara
lidahku mulai memainkan puting susunya yang sebelah kanan sambil
sesekali kuhisap putingnya. Kulihat dia terpejam dan menggigit bibir
bagian bawah sementara kedua tangannya menarik-narik rambutnya
sendiri, sepertinya dia sangat menikmati permainan ini.
Saat kedua tangannya memegang rambutnya, terlihat ketiaknya yang
sangat bersih tanpa ditumbuhi bulu karena mungkin sering dicukur.
Selanjutnya hisapanku mulai bergeser sedikit demi sedikit ke sisi
payudaranya, dan kulanjutkan jilatan dan hisapanku ke atas menuju
ketiaknya dan tangan kananku berganti memainkan payudara bagian
kanan. Saat lidahku menyapu ketiaknya dia sedikit
berteriak, "Akhh..". Aku lanjutkan dengan menghisapnya dan dia
semakin mendesah keras dan kedua kakinya merapat saling menindih.
Terlihat dia menegang untuk beberapa saat, kemudian mulai melemas
sepertinya dia telah mencapai orgasme untuk yang pertama.
Terlihat titik-titik keringat muncul di dahinya, aku melepaskan
gigitanku dan dia duduk sambil tangannya menyentuh rambutku dan dia
meraba wajahku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya
membersihkan keringat yang ada di dahinya. Setelah dia meraba bagian
wajahku, jari-jarinya menyentuh bibirku dan dengan ibu jarinya dia
mengusap-usap bibirku dan berusaha memasukkan ibu jarinya ke dalam
mulutku. Aku tidak menolak, kukulum ibu jarinya dengan lembut, dan
jarinya yang lain mulai menyusul masuk ke dalam mulutku, kukulum satu
persatu jari-jarinya yang putih.
Perlahan dia menarik tangannya dan mulai membuka kacing-kancing
kemejaku. Perlu pembaca ketahui jika aku berada di tempat customer
aku selalu mengenakan kemeja dan sepatu, tetapi sepatu dan kaus
kakiku telah kulepas di depan rumahnya. Setelah semua kancing
kemejaku terlepas, aku berdiri dan membuka kemejaku. Selajutnya
kubuka sendiri ikat pinggang dan celana panjangku sampai aku hanya
memakai CD yang telah menjadi ketat karena terdesak oleh batang
kemaluanku yang menegang keras. Selanjutnya kubuka CD-ku sendiri
sehingga kini aku telah telanjang bulat.
Terlihat batang kemaluanku tegak berdiri dengan arah agak vertikal,
perlahan kudekatkan batang kemaluanku ke wajahnya dengan harapan dia
akan menghisapnya, tapi sepertinya dia tidak mengerti maksudku,
karena dia hanya memandang saja. Selanjutnya dengan tangan kananku
memegang batang kemaluan dan tangan kiriku membelai rambutnya, aku
usap-usapkan batang kemaluanku ke wajahnya, lagi-lagi dia belum
mengerti keinginanku, dia hanya memejamkan mata. Karena sudah tidak
sabar kuusapkan kepala batang kemaluanku ke bibirnya dan aku berusaha
memasukkan batang kemaluanku dan akhirnya dia mau membuka mulutnya.
Perlahan kudorong batang kemaluanku agar masuk lebih dalam lagi,
terasa lidahnya yang lembut menyentuh kepala batang kemaluanku.
Sepertinya dia mulai mengerti apa yang kuinginkan, selanjutnya
lidahnya mulai menyapu kulit batang kemaluanku dari pangkal sampai
ujung berulang-ulang sambil sesekali mengulumnya, terasa sangat
lembut, hangat dan sangat nikmat sampai-sampai merinding seluruh
tubuhku. Sepertinya dia menyukai batang kemaluanku karena lebih dari
lima menit dia menikmati batang kemaluanku sampai kakiku kelelahan
berdiri, akhirnya aku mengambil posisi 69 dengan posisi miring.
Sementara dia mengulum dan menjilati batang kemaluanku, aku mulai
membuka CD-nya yang sedikit basah. Terlihat rambut-rambut halus
menutupi kemaluannya sebelah atas. Aku terus menurunkan CD-nya sampai
terlepas, selanjutnya kucium dan jilati paha bagian dalamnya sampai
mendekati liang kewanitaannya. Lain dengan Novi, bibir liang
kewanitaan Yuni berwarna cenderung merah hati. Aku sapukan lidahku ke
lubang kenikmatannya yang telah mengeluarkan cairan bening, terasa
agak gurih.
Saat kubuka liang kewanitaannya dengan tangan kiriku, terlihat liang
kewanitaannya sangat sempit dan sepertinya dia masih perawan karena
bentuk bagian dalamnya persis seperti kepunyaan Novi. Mengetahui dia
masih perawan, aku semakin semangat menikmati liang kewanitaannya.
Kurenggangkan kedua pahanya, kusapukan lidahku dari anusnya dan
sedikit demi sedikit naik menuju lubang kemaluannya dan akhirnya
sampai pada klitorisnya. Kujilati dan kuhisap klitorisnya berulang-
ulang, kuturunkan lidahku ke lubang senggamanya dan cairan bening
mulai mengalir dari liang kewanitaannya. Kemudian kuhisap dalam-dalam
cairan yang keluar tersebut dan kukeluarkan di daerah klitorisnya
sambil terus kujilati dan kuhisap klitorisnya.
Setelah puas menikmati klitorisnya, kini lidahku mulai menyapu liang
kewanitaannya, dan lidahku kumasukkan ke dalam liang kewanitaannya
yang sempit tersebut. Sampai akhirnya dia melepaskan hisapan pada
batang kemaluanku dan untuk yang kedua kalinya dia menegang dan
perlahan keluar cairan bening dari dalam liang kewanitaannya yang
selanjutnya kuhisap dan kutelan sampai habis.
Aku melihat Yuni yang kelelahan, aku bangkit dan duduk di samping
tubuhnya yang telah lemas dan karena aku belum mencapai orgasme,
kuambil posisi di atasnya dan dengan tangan kananku, kubimbing batang
kemaluanku agar dapat masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat
kugesek-gesekkan batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, tangan
kanannya menahan agar batang kemaluanku berhenti. "Tolong Mas jangan
dimasukin, aku takut, aku belum pernah melakukannya", ucapnya dengan
lirih. Mendengar itu aku jadi iba juga, kutarik batang kemaluanku
dari permukaan liang kewanitaannya, dan aku kembali duduk di
sampingnya dengan tanganku mengocok batang kemaluanku yang masih
tegang. "Aku kulum saja ya Mas, boleh nggak?", tanyanya sambil tangan
kanannya meraih batang kemaluanku. Aku hanya mengangguk, selanjutnya
dia bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan denganku, dia
tersenyum dan mencium bibirku sejenak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar