Sabtu, 06 Juli 2013

Kisah Indah

Saat masih SMA aku mempunyai sifat yang keras, pemberontak dan nekat.
Orang bilang aku ini seorang pemuda yang tidak tahu aturan. Tapi
sebenarnya tidak, aku cuma ingin mengembangkan diriku sendiri. Pada
waktu itu aku punya teman kampung yang sebaya denganku, dia sekolah
di SMA swasta. Dalam berteman kami sangat cocok dan sering melakukan
sesuatu bersama. Kami tidak berpikir lama untuk melakukan sesuatu

yang ekstrim, menantang atau bahkan melanggar aturan atau hukum. Ya
benar, mulai dari naik gunung, panjat tebing, melancong ke luar
pulau, memancing di laut, sampai yang ini; kebut-kebutan, judi,
pengguna dan pengedar ganja, mabuk-mabukan atau bahkan yang ini;
mengutil di plaza, mencuri dan banyak lagi. Singkatnya kami ini
adalah persekongkolan. Namun ulah kami yang satu ini adalah yang
paling berkesan bagi kami walaupun kami sama sekali tidak menduganya:
mengintip.

Aku tinggal di perumahan dengan bangunannya kuno dan besar, ruang-
ruangnya yang luas, langit-langitnya yang tinggi dan temboknya yang
tebal. Kuno seperti bangunan jaman Belanda. Nah, aku punya tetangga
yang bentuk rumahnya sama persis dengan rumahku, rumahku dengan rumah
tetanggaku itu menyambung. Meski di tengahnya ada tembok, tapi
menyambung di atasnya. Ya, ruangan di atas asbes di bawah genteng,
yang ada rangka kayu besar itu di disain los. Kalau ada seorang yang
berada di atas, jelas dia dapat bebas menjelajah dari rumahku ke
rumah tetanggaku tanpa di ketahui orang di dalam rumah yang ada di
bawah. Tentunya dia harus melakukannya dengan tanpa suara. Nah,
itulah yang akan aku dan temanku lakukan bersama. Kenapa? karena
tetanggaku itu, sebut saja keluarga Darwin, mereka punya dua orang
anak perempuan, satu masih TK dan satu lagi SMP kelas dua, sebut saja
Wanda. Wanda walaupun masih SMP tapi tubuhnya tinggi seperti ibunya,
ramping dan cantik, menurutku.

Kami sering menggodanya. Terkadang kalau dia punya PR, aku dan
temanku yang mengajarinya, jelas lebih sering aku sendiri. Tapi bukan
Wanda yang menjadi sasaran pengintipan kami, melainkan ibunya. Ya
benar, Ibu Darwin ini lebih cantik, wajahnya mirip model Larasati.
Umurnya mungkin 35-an, tubuhnya putih mulus, seksi, dan pakaian yang
dikenakannya sering tidak lengkap, "ini"-nya yang kelihatanlah, "itu"-
nya yang terbukalah, pokoknya benar-benar menggoda. Aku dan temanku
sering kepergok mengamati dia kalau dia sedang membersihkan halaman
dan dia hanya tersenyum pada kami. Suaminya? oh suami Ibu Darwin
kerja di luar pulau dan hanya pulang mungkin 2 kali dalam sebulan,
dan beliau sering ke luar negeri untuk waktu yang tidak sebentar.
Akibatnya Pak Darwin selalu memberi pesan padaku supaya aku
mengawasi, menjaga atau membantu anak-isteri yang ditinggalkannya.
Benar-benar suatu skenario yang baik, pikirku.

Pada suatu malam kami naik ke atas, kami mempersiapkan segalanya,
obeng, bor kecil, pisau bergerigi, sapu tangan penutup muka dan
senter, karena di atas gelap dan berdebu. Kami naik ke atas dan
langsung menuju ruang kamar mandi, kira-kira hampir 2 jam kami
merekayasa atap asbes yang ternyata bukan terbuat dari asbes, untung
kami membawa bor. Bor ini bukan bor listrik tapi sebuah bor manual
tangan jadi tidak ada suaranya. Beres sudah, 2 lubang persegi tepat
berada di atas kamar mandi sebesar 5x5 meter yang bisa ditutup telah
selesai.

Kami pulang dan pada esoknya sekitar pukul 05.00 pagi, kami kembali
ke atas dan menunggu Ibu Darwin untuk mandi. Lalu terjadilah, dia
masuk sedangkan kami mengamatinya dari atas. Ketika dia mengusap
dadanya yang padat dengan sabun, kemudian membersihkan
selangkangannya dengan gerakan tangan naik-turun lalu menggosok
pantatnya yang seksi, kami benar-benar terangsang. Bu Darwin tidak
mungkin atau kecil kemungkinan untuk menoleh ke atas, karena dengan
ukuran kamar mandi yang kecil kalau dia memandang ke depan sudut
pandangnya maksimal hanya sampai ke dinding tembok tidak mencapai ke
langit-langit yang tinggi. Kecuali kalau ada sesuatu dari atas yang
jatuh atau kalau kami lagi sial dan tiba-tiba dia menoleh ke atas,
itu resiko kami. Selanjutnya kami pulang untuk bersiap berangkat ke
sekolah masing-masing.

Kami mengulangi pengintipan kami saat sore dan pagi sampai selama 5
hari. Berikutnya hari ke-6 kami "habis", kami kepergok. Sore itu,
demi Tuhan yang ada di sorga, entah dari mana asalnya tiba-tiba aku
bersin, bahkan sampai dua kali. Ibu Darwin menoleh ke atas dan
melihat lubang kami, dia menjerit. Dengan cepat kami menutup lubang-
lubang tersebut dan langsung turun untuk melarikan diri. Kemudian aku
berpikir, hei kenapa melarikan diri? suami Ibu Darwin tidak ada, jadi
kenapa takut? Kami nekat mendatangi rumahnya lalu mendapati Ibu
Darwin yang masih basah buru-buru hendak keluar dari rumah. Kami
bertemu di pintu depan rumahnya.

"Ada apa Ibu Darwin kok masih basah?" aku berpura-pura.
"Andre, ada orang yang mengintip saya di kamar mandi. Dia ngintip
dari atas."
Aku dan temanku saling berpandangan.
"Haaah, jadi kalian yang mengintip saya, kurang ajar."
"Plaaak!" Ibu Darwin menamparku.
Buru-buru temanku menyela, "Maaf Bu, soalnya Ibu cantik, seksi lagi,
kami jadi penasaran, dan sebenarnya ini semua ide Andre, maafkan
kami."
Sepintas kulihat senyum di bibir Ibu Darwin yang merah. Lalu temanku
dengan santai ngeloyor pergi.
"Benar Bu, ini tangung jawab saya, maafkan saya, saya, ehh..."
Dengan nada rendah, "Sudah Andre, sekarang kamu pergi saja, saya muak
melihat kamu."

Empat hari berikutnya aku nekat mendatangi Ibu Darwin yang sedang
bergurau di teras dengan Wanda. "Wanda, masuk ke kamarmu Ibu mau
bicara berdua dengan Kak Andre, ada perlu apa Andre?" Aku tidak
merasa takut sedikitpun tapi lidah ini terasa beku dan tak bisa
bergerak, tak tahu mau mulai dari mana. Lalu hanya ibu itu yang
bicara mengenai apa saja. Aku hanya mendengarkan sambil tersenyum,
dan dia membalas senyumanku. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian
4 hari lalu. Kemudian topik pembicaraan beralih menyangkut suaminya.
Segera aku menimpali, "Ibu pasti kesepian ditinggal terus oleh
suami." Dia memandangku dengan tajam, "Iya!" Lalu Ibu Darwin terdiam
lama dan tiba-tiba,
"Suami macam dia Andre, pasti punya simpanan lain di sana. Kalau dia
pulang saya nggak dapat apa-apa, cuma si kecil dan Wanda yang
diurusin, saya enggak."
"Oooh begitu rupanya," aku menimpali.
Gila kesempatanku nih.

Lama kami terdiam dan sesekali pandangan kami bertemu dan dia
tersenyum padaku lagi. Hari menjelang gelap, tiba-tiba dia memegang
tanganku dan berkata,
"Andre, temanmu mana?"
"Oh si Rahmat, saya akan bertemu dengan dia besok siang, kenapa Bu?"
"Kalian kan sudah melihat Ibu di kamar mandi, sekarang giliran Ibu
harus melihat kalian."
Aku tersentak kaget bagai seorang yang baru saja tahu kalau dia
kecopetan.
"Besok siang kalau kalian sempat, Ibu tunggu di rumah ya, Wanda masuk
siang dan baru pulang jam 6 sore."
Lalu Ibu Darwin melepaskan genggamannya dan segera masuk ke dalam
rumah sambil tersenyum. Dengan perasaan kaget bercampur bingung aku
pergi ke rumah Rahmat dan menceritakan semua apa yang baru saja
terjadi.

Siang itu pukul 11.00 aku bolos sekolah dan bertemu rahmat yang juga
bolos, di warung.
"Kita berangkat sekarang Ndre, aku sudah nggak tahan nih."
"Boleh, ayo!"
Kami langsung menuju rumah Bu Darwin, sepi, tapi pintu tak terkunci,
kami berdua langsung masuk dan menguncinya dari dalam.
"Eh... jadi juga kalian datang."
Kulihat Ibu Darwin berpakaian rapi.
"Ibu Darwin mau kemana?"
"Hei, jangan panggil Ibu Darwin, panggil Lisa saja, itu nama saya.
Oh, kalau kalian tadi nggak datang dalam 15 menit saya mau pergi
jalan-jalan ke mall dengan si kecil."
Dari sini rasa hormat hormatku kepada tetanggaku ini mulai hilang.

Aku mulai berubah jahat dan aku mulai bertanya dalam hati, dimana Pak
Darwin sekarang? Apa yang beliau pikirkan atau lakukan sekarang?
Beliau memberiku kepercayaan tetapi lihat, setan dalam diriku telah
menguasaiku 100%. Kalau pun apa yang kami bayangkan tidak terjadi
atau Ibu Darwin membohongi kami, kami akan terus maju, kami akan
memaksanya. Dan ternyata benar, pikiran jahatku hilang…berubah
menjadi panik. Aku melihat mobil ayahku, yang adalah seorang perwira
menengah TNI datang. Dan ayahku membawa serta seorang anak buahnya
yang tinggi besar, Provost mungkin, dan mereka menuju kemari ke arah
kami. Gawat!

"Hei, ternyata Ibu menipu kami, ini lebih menyakitkan dari apa yang
kami lakukan terhadap Ibu!"
"Andre, saya ingin sifat kamu berubah, kamu sudah tidak kecil
lagi..." kami tidak menggubrisnya lagi, kami berlari dan lompat lewat
pintu belakang, kabur.
Sempat kudengar ayahku berteriak, "Andre jangan lari, ayah hanya
ingin menyiksamu! Kembali kau, pengecut!"
Aku mendegar kata terakhir ini. Sambil berlari, aku sedih dan kecewa,
seluruh tubuhku ini terasa lemas.

Kami lari tanpa tujuan. Sesampai di persimpangan jalan besar, temanku
mulai bicara, "Andre, aku sudah tidak punya waktu lagi dengan segala
kegilaan kita ini, kejadian barusan sudah cukup bagiku, 4 bulan lagi
kita Ebtanas, aku punya rencana panjang setelah aku lulus nanti, aku
tidak ingin gagal, aku ingin kita sukses!" Aku terbelalak kaget
seperti orang yang menemukan uang 1 juta di jalan. Kami terdiam dan
aku hanya memandang ke bawah dan mulai merenung dan berpikir, keras
sekali. Tidak kusangka, temanku ini punya semangat baja dan pantang
menyerah, semangatku mulai bangkit dan pikiranku terasa bergerak ke
satu arah, tobat. "Thanks Mat, aku bangga punya teman seperti kamu,
aku tahu sekarang waktunya kita berubah. Masa remaja telah berlalu
dan aku juga tidak ingin gagal."

"Andre, saatnya telah tiba bagi kita dan..."
"Rahmat, aku setuju denganmu dan sebaiknya kita berpisah sekarang dan
kita ketemu saat kita lulus nanti, oke man?"
"Oke, boss..."
Kami saling pandang lalu seperti ada yang menggerakkan dalam diri
kami, sambil tertawa masam kami berangkulan singkat sekali, kami
berpisah. Kulihat dia berlari menuju terminal untuk pulang ke rumah.
Lalu aku berbalik arah menuju rumah namun tiba-tiba aku berbelok arah
menuju warung yang sering aku dan Rahmat datangi. Di warung itu
kembali aku merenung dan memikirkan semua yang telah aku lakukan
selama SMA, aku melamun, kemudian terdengar suara kecil dari dalam
pikiranku dan sepertinya berkata, "Satu kali lagi, Andre, satu kali
lagi Andre, satu kali lagi Andre..." terus berulang-berulang. Aku
terbangun dari lamunan, oke kalau begitu.
Kemudian, buru-buru aku pulang ke rumah, dan kebetulan ayahku sudah
tidak ada di situ lagi, aku langsung masuk masuk ke kamar, mengganti
baju lalu mengambil semua simpanan uangku, dan terakhir mengambil
semua perlengkapan naik gunungku. Yap, Aku memutuskan akan naik
gunung untuk yang terakhir kalinya sendirian. Kemudian, ibuku
berusaha untuk mencegahku dan mengatakan kalau ayahku
mencariku. "Ibu, katakan pada Ayah kalau aku akan kembali." Ibuku
menangis sejadi-jadinya, tetapi aku tetap pergi. Dan sementara aku
keluar dari rumah aku berpapasan dengan Ibu Darwin. Dia memegang
tanganku, "Andre, kamu mau kemana, apa yang akan kamu lakukan, Andre,
jangan minggat, saya..." aku tidak menggubrisnya. Aku pergi menuju
terminal, aku cabut.

Selama 3 hari aku berjalan mendaki gunung itu sampai ke puncak lalu
berjalan turun ke utara. Satu malam aku terjebak hujan di tengah
perjalanan turun. Sepi, tidak ada satu nafas manusia pun kecuali aku.
Sekarang aku telah sampai di bawah, terminal bus Ngawi pukul 09.00
malam, hari Minggu. Aku pulang. Sesampai di rumah ternyata ayah dan
ibuku telah menunggu. Tanpa sepatah kata mereka merangkulku. Lalu
kami semua tidur. Besok paginya aku berangkat ke sekolah, kali ini
aku diberi kepercayaan oleh ayahku membawa mobilnya. Sebelum pergi,
aku sempat berbicara serius dengan Ibu Darwin dan dia memberiku
surat. Dalam perjalanan ke sekolah aku memaksakan untuk membaca surat
itu, isinya ternyata sebuah permintaan maaf, pernyataan pribadi
terhadapku, dan sebuah perjanjian…yang sangat penting.

Tiga bulan berlalu, aku lulus dari SMA dengan nilai terbaik, mereka
bilang kalau aku termasuk dalam 10 besar terbaik tingkat nasional dan
aku tidak percaya. Setelah itu aku bertekad untuk melanjutkan karier
ayahku, aku sudah puas sekaligus bosan dengan pendidikan formal dan
aku tidak akan membuang waktuku percuma hanya untuk kuliah, sekarang
waktunya untuk sesuatu yang lain. Aku mendaftar akademi tentara,
syukur ternyata aku lolos ujian lokal.

Waktu berjalan cepat, tiba saatnya kini aku harus berpisah dengan
orang tuaku. Tapi sebelum itu, pada suatu malam pukul 19.00, aku
menelepon Ibu Darwin dan dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya pada
pukul 22.00. Selama 3 jam aku menunggu di rumah aku benar-benar tidak
tahan, serasa 3 tahun lamanya. Waktunya tiba, belum, pada pukul 21.20
aku nekat ke rumah Ibu Darwin, lewat pintu belakang tentunya. Waktu
itu kedua putrinya sudah tidur di kamarnya masing-masing, mungkin,
harus. Aku langsung menuju kamar Ibu Darwin yang berada di samping
belakang rumah. Aku mengetok 2 kali, "Masuk Andre, kami sudah
menunggumu." Aku tersentak kaget seperti orang tertimpa tangga dengan
tiba-tiba, "Hah, kamu siapa?" aku membuka pintu kamar itu dengan
cepat. Kamar itu terang, jadi aku dapat melihat jelas Ibu Darwin yang
tergolek di ranjang, dia memakai daster mini warna hitam, kontras
dengan warna kulitnya yang putih. Lekuk-lekuk tubuhnya tergambar
jelas ketika dia memiringkan badan sambil menyangga kepala dengan
tangannya.

Ibu Darwin memang perempuan sejati, dia begitu cantik. Tapi aku
begitu kaget untuk yang kedua kalinya ketika melihat pemuda yang
berdiri di samping ranjang, Rahmat! Sambil tertawa aku tersedak,
"Rahmat! Jadi, jadi, perjanjian ini juga berlaku buat kamu?"
"Hehehe, benar Andre, tapi kamu tenang saja, aku dan Ibu Darwin belum
mulai kok, kami menunggu kamu."
Akhirnya Aku dan Rahmat tertawa bersama.

"Eh ssst, kalian ini kenapa? Tunggu apa lagi? Saya sudah tidak tahan
lagi."
"Hehehe... sama," kami menimpali.
Dengan masih berpakaian lengkap aku menerkam Ibu Darwin dan
menindihnya. Kulumat habis bibirnya sambil kuremas-remas dadanya yang
kecil padat dan dia memelukku dengan erat. Sementara itu Rahmat
dengan pelan menelanjangi dirinya sendiri. Setelah beberapa menit
kami bercumbu, Rahmat naik ke ranjang dan mengangkangi Ibu Darwin di
kepalanya, lalu Rahmat menyerahkan rudalnya yang baru setengah
berdiri itu ke mulut Ibu Darwin dan perempuan itu melahapnya. Aku
sendiri langsung menuju bagian bawah pinggang Ibu Darwin, kutarik
celana dalamnya dan kujilati pahanya yang empuk, lalu menurun sampai
ke pangkal paha. Dari sini aku mencium bau aneh, sembab. Tapi aku
tidak memperdulikannya, aku mengamati belahan daging lembut yang
berwarna coklat kemerahan yang sudah basah itu. Aku mulai
menciuminya, kusibakkan bulu-bulu halus di sekitarnya lalu kujilati
area kewanitaan itu, dan anu-ku sudah tidak terkontrol lagi bentuknya.

Beberapa saat kemudian Rahmat sudah tidak tahan dengan perlakuan Ibu
Darwin, perempuan itu benar-benar kuat mengoral Rahmat selama itu,
kini Rahmat meledak, dia semprotkan seluruh spermanya ke mulut dan
wajah Ibu Darwin. "Oh... oh... sssh, ayo keluarkan semua Mat... ayo,
oh..." Kini wajah Ibu Darwin penuh dengan lelehan sperma Rahmat,
Rahmat rebah di sisi kiri Ibu Darwin sambil tersenyum. Sementara itu
aku masih menjilati vagina Ibu Darwin dengan rakus. "Eeeeh... mmmh,
Andreee aaahk... oooh..." sambil menjilat kulihat wajah Ibu Darwin
sedang dibersihkan dengan selimut oleh Rahmat. "Rahmat, kamu jangan
kecewakan saya. Buktikan kalau kamu perkasa, ayo bangun lagi ayooo!"
sambil tangannya mengocok dan memainkan rudal si Rahmat.

Setelah puas bahkan bosan menjilat, aku merebahkan diri di sisi kanan
Ibu Darwin. Tanpa kuperintah Ibu Darwin mengerti maksudku, dia
bergerak menuju ke bawah, melepas celana jeansku dan celana dalamku,
lalu mengulum dan menhisap benda yang ada di baliknya. Aku benar-
benar melayang seraya tanganku memeras rambutnya. "Aduuh Ibu Darwin,
anda hebat sekali oooh." Setelah beberapa saat lamanya kemudian,
penisku mulai bertingkah, kurasakan seperti suatu cairan di dalamnya
akan segera keluar. Aku terbangun dari posisi rebah, dan berlutut di
ranjang. Sementara Ibu Darwin masih menelan dan mongocok penisku
dengan mulutnya, lalu kupegang erat kepalanya dengan kedua tanganku
sementara Ibu Darwin melingkarkan tangannya di pantatku. Lalu
kubenamkan seluruh batang penisku ke mulutnya dan akhirnya... "Oooh,
aduuuh uhhhs, Ibu Darwiiin anda, anda... hebat..." spermaku keluar
bagai air bah, dan membanjiri mulut dan rongga tenggorokan Ibu Darwin.

Kulihat Ibu Darwin dengan terpejam menelan semua spermaku tanpa sisa.
Membuatku jadi jijik melihatnya. Aku melepaskan cengkeraman tanganku
di kepalanya dan kembali rebah di ranjang. Lalu Ibu Darwin pergi ke
kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga dan membersihkan diri.
Waktu itu pukul 23.45. Begitulah, kami meneruskan pesta kami sampai
puas. Kami melakukan semua gerakan, posisi dan teknik dari semua
imajinasi kami. Benar-benar tanpa batas.

Sampai menjelang pukul 06.00 pagi hari Minggu, ketika 2 putri Ibu
Darwin bangun, khususnya si Wanda, kami mengunci diri di kamar
tersebut sambil membersihkan diri, mandi. Kira-kira pukul 07.30,
paman mereka, adik Pak Darwin datang dan menjemput keduanya, si kecil
dan Wanda, tamasya ke luar kota. Hebatnya, ibu mereka tidak ikut
serta dengan mereka walaupun dia merasa berat. Ibu Darwin ternyata
menepati perjanjiannya dengan kami untuk selama 2 hari melayani nafsu
kotor kami. Akhirnya kami melakukannya lagi dimanapun dan kapanpun
kami suka. Ibu Darwin benar-benar adalah perempuan yang kuat meskipun
tak sekuat kami tentunya. Dia membuktikannya dengan melayani kami
secara bergantian dari mulai pagi hingga malam hari.

Seperti pada sekitar pukul 13.00, 1 jam seteleh dia senggama dengan
Rahmat dia menuju ke dapur dan makan, lalu mandi. Tepat pada saat itu
nafsu birahiku mulai bangkit dan kuputuskan untuk melampiaskannya di
kamar mandi. Kuketok pintu kamar mandi, dengan tanpa bertanya pintu
langsung dibukanya. Kulihat pemandangan yang indah, Ibu Darwin
berdiri dengan kondisi persis seperti Hawa saat dia baru diciptakan,
telanjang bulat.
"Oh kamu Andre, kenapa? minta lagi? kalian ini memang perkasa, tapi
saya masih lelah. Kamu bisa tunggu 1 jam lagi nggak?"
"Haaa? 1 jam? Nggak, aku maunya sekarang."
Lalu kuremas pantat Ibu Darwin dan mulai kusapukan lidahku ke liang
peranakannya. Ibu Darwin hanya bisa mendesah dan mulai bereaksi
menyandarkan dirinya ke dinding kamar mandi.
"Auuuh, oooh, sssshaa... lebih cepat Andre, lebih cepat, oookh..."
Aku puas menikmati vagina Ibu Darwin yang masih berbau harum sabun.

Lalu sambil berdiri kudorong Ibu Darwin untuk berlutut dan menghisap
kemaluanku. Dan Ibu Darwin melayaniku dengan baik, dia menghisap
penisku dengan gerakan cepat kelihatan seperti rakus. Setelah hampir
setengah jam menghisap, dengan masih menelan penisku tiba-tiba dia
berhenti. "Eeemmmh, ooockh," Ibu Darwin baru saja meminum semua
spermaku yang kutembak dalam mulutnya. Kemudian Ibu Darwin
membalikkan dirinya membelakangiku, sambil masih berdiri dia
membungkuk. Lalu kupeluk dia dan kutelusupkan penisku yang sudah
tegang itu dari belakang. Kami berdua menikmatinya dengan santai.
Kami bahkan bercerita dan tertawa sambil aku tetap mengocoknya dari
belakang. Dan saat yang paling nikmat tiba, Ibu Darwin mulai merintih
tegang dan aku mulai merasakan kontraksi dalam penisku. "Oh oh oh oh,
Andreee, eeehk, eeehk, eeehk, saya sudah nggak kuat lagi Andre,
sssaya habisss... ooohhh!" berbarengan dengan itu spermaku kembali
keluar. Lalu kami terkulai lemas dan bersandar di dinding sambil
berangkulan.

Itulah perjanjian kami dengan Ibu Darwin yang ditulisnya di dalam
surat 3 bulan lalu. Kini kami semua berpisah. Aku berhasil masuk tes
tingkat nasional pendidikan akademi di Jawa Tengah, Rahmat meneruskan
pendidikannya di perguruan tinggi negeri di Bandung, dan akhirnya Pak
Darwin memboyong keluarganya pindah ke Kalimantan. 5 tahun berlalu,
kedua orang tuaku pindah ke Sulawesi, aku ditugaskan di Jakarta
ketika aku menerima surat dari Rahmat dan menceritakan bahwa dia akan
berangkat ke Jerman untuk semacam pendidikan khusus. Raih cita-citamu
setinggi mungkin kawan, semoga sukses.

Asyiknya Rame-rame..

Lia sedang duduk menyelesaikan ceritanya di komputer waktu aku, Doni
dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba-tiba kami bertiga sudah ada di
samping dan di belakangnya sambil ikut membaca ceritanya di monitor.

"Wah, ceritamu bikin horny loh..!" kataku yang diiyakan juga oleh
Doni dan Ferry.
Yang membuat Lia kaget, Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-
kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya
yang nampak makin lama makin menonjol. Lia semakin kaget lagi sewaktu
mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke
bawah, sehingga di kanan-kiri Lia muncul dua benda panjang menjulur
ke depan. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan cerita di
komputer Lia, apalagi melihat penampilan Lia malam itu yang hanya
berdaster transparan.

"Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!" kata Doni sambil
menarik tangan Lia dan ditempelkannya di batang penisnya sekaligus
penis Ferry.
"Eh, ngapain nih pada..?" tanya Lia sambil agak meronta.
"Udah deh, pegang aja..!" kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan
tangannya ke daster Lia bagian atas terus ke bawah hingga menyentuh
gundukan buah dadanya yang tak ber-BH itu.

Lia langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian
sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, sehingga Lia tidak
lagi meronta dan malah menikmati genggaman tangannya pada batang
penis Ferry dan Doni. Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk
menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting
Lia yang semakin mengeras.
"Aaah.., ssshh..," desahnya merasakan kenikmatan sambil tangannya
terus menggenggam dan sesekali mengocok batang penis mereka.

Mereka serentak menghentikan kegiatannya, dan menyuruh Lia berdiri
dari kursi menuju ke ranjangnya. Daster Lia yang sudah tidak karuan
menyangga tubuhnya langsung terlepas bersamaan dengan tangan Ferry
yang menarik cepat tali dasternya. Sambil memegangi tangan Lia, kini
mereka dapat bebas melihat kemulusan tubuhnya yang tinggal berbalut
CD mini itu.

Lia disuruh berhenti di dekat ranjangnya, dimana aku sudah duduk
menunggu, duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Lia semakin
pasrah sambil berdiri waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua
tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan
bagian atas. Bulu-bulu halus Lia langsung berdiri menerima perlakuan
ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit
tangan Lia membuatnya seperti terbang melayang. Rintihannya semakin
menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Lia ke atas dan menyusupkan
bibir-bibir mereka ke ketiaknya.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Lia rasakan
sebelumnya itu, membuat Lia menggelinjang kegelian penuh rangsangan.
Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman
Doni di samping leher dan telinganya, sementara Ferry meneruskan
jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Lia.
Sementara tangannya di atas memegang kepala Doni yang asyik menyusuri
telinga dan tengkuknya, aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan
buah dadanya yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya.
Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang
membuat tubuhnya bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi,
karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Lia dengan mulutnya yang liar
sambil memiringkan kepala Lia. Mau tidak mau Lia melayani permainan
bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
"Mmph... mmph..," erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Lia yang asyik
menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit
kakinya. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Lia, tiba-
tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga
akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Lia. Pemandangan
indah gundukan vagina Lia tidak kusia-siakan dengan bibirku yang
sudah turun dari melumat buah dadanya menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya,
aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan
dengan vagina Lia. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih
mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan
vagina Lia dengan lembut yang membuatnya menggeliat merasakan
sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan
posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga
vagina Lia terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama
kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Lia yang kemudian diikuti
oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantatnya. Lia semakin hebat
menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap
klitorisnya dari bawah yang membuat vaginanya semakin basah.

Lia sudah tidak tahan dan mencoba meronta, tapi kami malah semakin
menggila. Tubuh Lia kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di
pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke
ranjang dan berlutut di depannya dengan penisnya yang mengarah ke
wajah Lia. Tangan Doni kemudian memegang rambut Lia dan menengadahkan
kepalnya.
"Buka mulutmu..!" perintah Doni yang segera diikuti, karena memang
Lia sudah horny sekali, dan ingin melakukan apa saja.

Begitu mulutnya terbuka, masuklah batang penis Doni yang tegang itu
sedikit demi sedikit. Lia mulai merasakan nikmatnya mengemut penis
Doni dengan memaju-mundurkan kepala sesuai gerakan tangan Doni di
rambutnya.
"Ayo isep dan jilat sepuasmu..!" perintah Doni lagi yang segera
diikuti Lia dengan menjilati sepanjang batang penisnya yang divariasi
dengan mengemut kepala penisnya.

Sambil terus menghisap, Lia merasakan ada sesuatu di bawah
selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara
kedua paha Lia dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir
dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di vagina Lia. Yang
membuat Lia semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-
goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke
belahan pantat Lia dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang
pantatnya.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah
dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra
kenikmatannya diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan
kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan
dengan menusukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Dan untuk
mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan
Lia ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti
puting Lia dengan mulutnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur penis Doni di
mulut Lia, kupercepat juga sodokan penisku ke lubang vaginanya sambil
mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Lia
diikuti dengan mengejangnya tubuhnya tanda mencapai puncak. Terasa
hangatnya cairan di lubang vagina Lia yang diikuti dengan kencangnya
otot-otot di situ yang menjepit penisku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut penisnya dari mulut Lia,
membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Lia ke atasnya, hingga
posisinya jadi berjongkok dengan vaginanya yang tepat berada di atas
penis Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah
penis Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Lia. Erangan Lia
terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacunya untuk
mempercepat pompaan pada penis Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan
berdiri di samping Lia, dan memasukkan penisnya ke mulut Lia dengan
memutar sedikit kepalanya. Vagina dan mulut Lia kembali bekerja keras
memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua
tangan Lia ke belakang, lalu menjilat-jilat putting di buah dada
kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke
atas yang diimbangi Lia dengan menahan ke bawah. Ferry yang sudah
tidak tahan penisnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan
mendorong tubuh Lia ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua
tangan Lia direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang
ranjang, lalu kedua kakinya direntangkan, dan Ferry ambil posisi di
antara kedua paha Lia. Vagina Lia yang terbuka langsung dihujam oleh
penis Ferry yang masih basah bekas lidah Lia. Ferry mulai menyodokkan
penisnya dengan lembut yang membuat Lia mengerang dan berusaha
mengimbangi dengan memutar-mutar pinggulnya.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang
Lia dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Lia yang
mulus itu. Bibir sensual Lia yang terus mengerang itu membuatku tidak
tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajahnya, hingga
penisku yang masih tegang berada tepat di depan mulutnya. Kuangkat
sedikit kepalanya dan kudorong masuk penisku. Lia pun menyambut
dengan ganas perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya penisku dengan
bibir dan lidahnya.

Genjotan penis Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Lia
menggelinjang hebat.
"Mmmh.. mmph.. mmmph..," teriak Lia tertahan penisku di mulutnya
bersamaan dengan melengkungnya tubuh Lia ke atas.
Lia telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
"Tunggu, aku juga mau keluar..!" kataku lagi sambil melepas penisku
dari mulutnya dan mengocok penisku di depan bibirnya yang sengaja
dibukanya lebar.
"Aaagghh..!" erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah
dan mulut Lia.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya
penisku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat
sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang dengan
perasaan puas yang mendalam. Yang jelas kami semua
merasakan 'asyiknya rame-rame', mirip dengan slogan iklan rokok di TV.

Tidak ada komentar: