Kemudian dia menunduk dan mulai mendekati batang kemaluanku, dia
sapukan lidahnya dari kepala batang kemaluan sampai pada pangkalnya
berulang ulang. Aku hanya merintih menahan nikmat, aku heran juga
kenapa dia nggak capek ya.. Yuni terus memainkan lidahnya sambil
sesekali mengulum kepala batang kemaluanku. Kuakui kulumannya sangat
nikmat karena batang kemaluanku masuk cukup jauh ke dalam mulutnya.
Setelah beberapa saat aku menahannya, akhirnya "Akhh.. aku mau
keluar", ucapku sambil meremas payudaranya dan maniku keluar memenuhi
mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya yang manis. Setelah menelan
maniku yang ada di dalam mulutnya, dia melanjutkan mengulum dan
membersihkan batang kemaluanku yang basah dengan lidahnya. Sampai
batang kemaluanku melemas pun dia masih terus mengulumnya sampai
batang kemaluanku terasa geli. Karena kegelian, kusuruh dia
melepaskan kulumannya. Kemudian kuangkat dagunya hingga wajahnya
berhadapan denganku, masih terlihat sisa-sisa maniku di sisi kiri
bibirnya yang mungil menetes ke dagunya. Kuusap maniku yang membasahi
hidung dan pipinya dengan jariku dan akan kuusapkan pada CD-nya,
tetapi dia ingin menelannya, sehingga jari-jariku dilumatnya hingga
mani yang kupegang habis. Sepertinya dia sangat menyukai maniku, enak
kali ya..
Sepertinya dia kelelahan, dia berbaring telentang menatapku dengan
tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya. Kupandangi lagi tubuhnya
yang telanjang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat titik-
titik keringat keluar dari sekujur tubuhnya, terlihat semakin indah.
Aku menarik nafas panjang dan kucium bibirnya yang mungil, masih
terasa sisa-sisa maniku di bibirnya, terasa gurih tetapi lebih kental
dari maninya.
Saat kulihat sudah pukul 10.30 malam, aku segera berpakaian,
mematikan komputer dan pamit pulang. Dengan malas diapun bangkit dan
mengenakan dasternya tanpa memakai CD dan BH.
"Mas uang kekurangannya belum aku siapkan, mau tunggu sebentar?",
katanya.
"Ah.. besok saja udah malam nih takut ditanya macam-macam sama
satpam", kataku.
Sebenarnya maksudku adalah agar aku dapat datang lagi dan main
dengannya seperti yang baru saja kami lakukan. Untuk yang terakhir
kalinya pada malam itu kucium bibirnya. Aku start mobilku dan
meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan aku heran juga, bagaimana dia
bisa mempertahankan keperawanannya jika dia sudah bermain sejauh itu.
Dalam hati aku yakin jika suatu saat nanti dia akan mennyerahkan
keperawanannya padaku.
Semenjak kejadian malam itu aku selalu teringat dengannya. Hampir aku
tidak percaya jika aku pernah bercumbu dengan seorang WNI keturunan
yang berwajah sangat manis. Tetapi karena kesibukanku ikut tender,
aku jadi belum sempat menghubungi Yuni. Kejadian ini berlangsung
empat hari setelah malam yang indah itu.
Sore itu sekitar jam 15.30 aku baru datang dari luar kota. Aku ke
kantor dan menyerahkan berkas-berkas dan revisi penawaran kepada dua
orang temanku, sedangkan aku langsung masuk ke ruang service dan
tidur. Seperempat jam kemudian aku mendengar seorang temanku
berkata, "Wah Doel, ada makhluk cakep datang.. ck.. ck.. ck.. indah
bener nih cewek". Karena aku sangat capek, aku tidak begitu
menggubrisnya dan aku tetap tidur sampai salah seorang temanku
membangunkanku. "Hai Doel.. bangun.. dicari makhluk indah tuh.." kata
temanku sambil menendang pelan kakiku. Oh ya, aku mendirikan toko
komputer bersama dua orang temanku, dan kami sama-sama memanggil
dengan julukan Doel.
"Siapa sih.. aku capek banget nih.." kataku sambil bangkit untuk
duduk.
"He.. Doel, Yuni itu WNI keturunan ya.. mana cakepnya selangit lagi,
kok kamu diam aja sih", umpat temanku.
Tahu kalau yang datang Yuni, hilang semua rasa capekku, segera aku
keluar untuk menemuinya.
"Hai Yun pa kabar.. sorry nih beberapa hari ini aku sibuk banget",
sapaku.
"Ah.. aku yang sorry nih baru ngelunasi sekarang", katanya.
"Iya.. iya.. udah selesai udah aku urusin, mendingan sekarang kamu
tidur lagi aja", sahut temanku sambil ketawa.
"Bagaimana, ada masalah dengan komputernya, kamu udah daftar belum?"
tanyaku.
"Nggak ada masalah dengan komputernya, tapi aku belum daftar",
jawabnya.
"Sekarang kamu mau ke mana, aku anterin daftar mau nggak", ajakku.
Dia mengangguk, kedua temanku cuma bengong melihat aku sudah sangat
akrab dengannya.
"Pakai mobilku aja nggak apa-apa Mas", katanya.
"Sebentar, aku cuci muka dulu ya", sahutku sambil berjalan ke
belakang.
Selesai cuci muka aku titipkan mobilku pada salah seorang temanku.
"Heh.. Doel, mau pergi ke mana kamu?" tanya temanku setelah aku
menyerahkan kunci mobilku padanya.
"Alah.. udah kamu jalan-jalan yang jauh sana pake mobilku, ini urusan
orang dewasa, kamu nggak boleh ikut-ikut", kataku sambil mengajak
Yuni keluar.
Permisi Mas.." kata Yuni sambil keluar menuju pintu.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanyaku setelah selesai daftar.
"Nggak tahu, terserah Mas aja", katanya.
"Kakak kamu ada di rumah nggak?" tanyaku.
"Ada, emangnya kenapa?" dia balik bertanya.
"Nggak, aku cuma kangen ama kamu", kataku sambil tersenyum.
"Aku juga kangen ama Mas.. eh nama Mas siapa sih, aku malah belum
tahu nama Mas", katanya.
"Iya ya.. kita udah sangat akrab tapi kamu belum tahu namaku, namaku
Fafa", jawabku sambil aku memegang tangan kirinya.
"Kita ke mana nih.. Mas?" tanyanya sambil melambatkan laju mobilnya.
"Kalo misalnya kita nginap boleh nggak sama kakakmu?" kataku agak
ragu.
"Ya.. coba aku telpon dulu mungkin boleh asal Mas diam, jangan sampai
suara Mas kedengeran sama kakakku, eh memangnya kita mau nginap di
mana sih Mas", tanyanya sambil menepi dan menghentikan mobilnya.
"Kita sewa villa saja di Tawang Mangu", jawabku.
Yuni mengeluarkan HP dari tasnya dan meghubungi kakaknya. Setelah aku
tahu kalau kakaknya mengijinkan, aku sangat senang sekali dan mulai
dari jalan itu gantian aku yang pegang setir karena jalannya sempit
dan berliku-liku.
Satu jam kemudian aku sampai di lereng Gunung Lawu tersebut.
"Mas pernah sewa villa di sini ya?" tanya Yuni.
"Belum tuh, mungkin kita bisa tanya di rumah makan itu sambil kita
makan, aku udah lapar nih", kataku sambil menghentikan mobil ke
sebuah rumah makan. Untungnya pemilik rumah makan tersebut juga
menyewakan villa yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah makan
tersebut.
Keinginanku untuk bercumbu dengannya mengalahkan ongkos sewa villa
yang lumayan tinggi yaitu 200 ribu per malam. Sebuah rumah mungil
dengan dua kamar tidur yang masing-masing terdapat sebuah kamar
mandi. Saat kami masuk ke villa yang berada di tepi sebuah bukit
tersebut, matahari hampir terbenam. Kami memilih satu kamar yang
meghadap langsung ke tebing. "Aku mandi dulu ya.." kataku sambil
melepaskan semua pakaianku dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat aku
membersihkan badanku dengan sabun, kulihat pintu kamar mandi yang
memang tidak kukunci telah terbuka. Kulihat Yuni telah telanjang
menyusulku masuk ke dalam kamar mandi. "Ikutan mandi ya Mas", katanya
sambil mendekatiku. Kulihat tubuhnya yang sintal dan padat terbalut
kulit putih bersih dengan dua buah bukit yang menggantung sangat
indah.
Dia mendekatiku dan mengusap wajahku dengan jari-jarinya yang lentik,
tampak air telah membasahi rambutnya. Setelah semua tubuhnya basah
oleh air, dia mematikan kran shower. Selanjutnya dia meraih sabun
yang masih kupegang. Aku diam ingin tahu apa yang ingin dia lakukan,
dengan sabun di tangannya dia mulai menelusuri lekuk-lekuk tubuhku.
Dari leher, dada, punggung, perut, batang kemaluan sampai ujung
kakiku dia gosok lembut dengan sabun. Kulihat batang kemaluanku telah
tegang, saat Yuni masih menggosok betisku, kutarik tangannya perlahan
agar dia berdiri. Setelah wajahnya berhadapan dengan wajahku,
kudekati bibirnya, kucium dengan hidungku, dan lidahku aku sapukan di
kulit bibirnya yang mungil. Dia hanya terpejam, selanjutnya lidahku
mulai kupermainkan di dalam mulutnya, dia membalas dengan menghisap
lidahku.
Aku melepaskan ciumanku, kuraih sabun yang masih di pegangnya.
Sekarang gantian aku yang menggosok seluruh tubuhnya. Mulai dari
leher dan ketika sampai pada payudaranya, kuputar-putarkan sabun di
sekitar payudaranya sambil sesekali kuremas dengan lembut.
Selanjutnya usapanku mulai mendekati sekitar liang kewanitaannya, aku
sapukan sabun di sekitar paha bagian dalam dan juga ke rambut
kemaluannya yang masih lembut.
Setelah selesai aku meratakan sabun di seluruh tubuhnya, kini kuraih
kran shower dan kuputar perlahan. Dengan guyuran air, kulumat
bibirnya dan kemudian ciumanku aku turunkan di payudaranya. Kuhisap
lembut kedua payudaranya secara bergantian, terlihat dia merapatkan
pelukannya sambil mendesis keenakan. Perlahan ciumanku berjalan
menuju ke liang kewanitaannya, kuhisap-hisap liang kewanitaannya
sambil lidahku masuk menerobos lubang yang sangat sempit itu. Karena
aku risih dengan air yang mengalir pada liang kewanitaannya, kuputar
kran sehingga air berhenti mengguyur tubuhnya. Setelah air berhenti
mengalir, kulanjutkan mempermainkan liang kewanitaannya. Kujilati
pahanya bagian dalam dan di sekitar liang kewanitaannya. Kudengar
Yuni merintih dan dia naikkan kaki kirinya di atas pundakku. Kini aku
dapat melihat dengan jelas lubang kenikmatannya yang terlihat sangat
kecil dengan bibir berwarna merah hati.
Kemudian kudekatkan mulutku di liang kewanitaannya dan kusapukan
lidahku di sekitar klitorisnya sambil sesekali kuhisap klitorisnya.
Kupindah sapuan lidahku dari klitoris menuju ke liang kewanitaannya,
kini pada lubang kemaluannya telah terasa agak asin. Aku terus
memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku ke atas dan ke bawah. Yuni mulai
terangsang hebat, dia menggerak-gerakkan pinggulnya sambil menekannya
ke bawah sehingga lidahku masuk lebih dalam lagi di liang
kewanitaannya. Sambil kupermainkan lidahku, kuhisap cairan bening
yang keluar dari liang kewanitaannya. Dia semakin cepat menggoyangkan
pinggulnya sambil tangannya menekan kepalaku, hingga aku hampir tidak
dapat bernafas. Aku tahu kalau dia hampir mencapai orgasme, hingga
kutarik lidahku dari liang kewanitaannya. Aku ingin kami mencapai
organsme untuk yang pertama secara bersama-sama.
Saat kutarik lidahku dari liang kewanitaannya, kulihat Yuni terkejut
dan sepertinya dia agak kecewa. "Nanti kita sama-sama saja Yun biar
tambah asyik", kataku sambil tersenyum dan Yuni hanya tersenyum
kecut, sepertinya dia sangat kesal sekali. Kemudian aku berdiri dan
kucium bibirnya, dia hanya diam tidak memberikan respon. Kurasa dia
sedikit marah aku menggagalkan orgasmenya. Kasihan juga aku
melihatnya, selanjutnya kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan
dia telentang, terlihat titik-titik air masih memenuhi tubuhnya yang
sangat indah.
Selanjutnya kucium bibirnya dengan lembut, dan kulanjutkan dengan
menyapukan lidahku di sekitar lehernya sambil kupermainkan
payudaranya dengan tangan kananku, sedangkan tanganku yang kiri
mengangkat tangan kanannya. Aku masih ingat ketika aku mencumbu di
sekitar ketiaknya yang mulus itu, dia sangat menikmatinya. Kemudian
sapuan lidahku kugeser menuju payudaranya sebelah kanan, sedangkan
payudara sebelah kiri masih kupermainkan dan sesekali aku meremasnya
dengan tangan kananku. Sambil kuhisap puting susunya, tanganku yang
kiri membelai dan mengelus ketiaknya. Selanjutnya sapuan lidahku
kugeser menuju ketiaknya yang sangat putih dan terlihat bersih. Aku
jilati dan sesekali kuhisap ketiaknya, kulihat dia mendesah keras,
sepertinya dia sangat menikmatinya. Tangan kananku kuturunkan menuju
pahanya, kuraba pahanya dengan lembut dan belaianku kulanjutkan ke
liang kewanitaannya. Kubelai-belai liang kewanitaannya dengan lembut
sambil sesekali kutusukkan ujung jariku ke dalam liang kewanitaannya,
terasa basah. Yuni semakin mengeliat dan menggerak-gerakkan kedua
kakinya.
Setelah aku tahu dia telah terangsang hebat, kutindih dia dan kulumat
lagi bibirnya. Kupegang kedua tangannya dan aku berusaha menusukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Yuni meronta sambil
merapatkan kedua pahanya sehingga batang kemaluanku tidak berhasil
menembusnya. "Kita main seperti dahulu saja Mas", bisiknya. Dengan
terpaksa kulepaskan kedua tangannya dan aku mengambil gaya seperti
dahulu yaitu gaya 69, tetapi kali ini aku meminta dia berada di
atasku.
Saat dia berada di atasku, kulihat daerah liang kewanitaannya merekah
dengan bibir berwarna merah hati dan lubang kemaluannya berwarna
merah muda. Tanpa pikir panjang kusapukan lidahku ke arah klitorisnya
sambil kuhisap dengan pelan. Aku merasakan dia mulai mengulum batang
kemaluanku dengan lembut, saat batang kemaluanku masuk ke dalam
mulutnya, terasa sangat hangat dan nikmat sekali. Aku terus menghisap
klitorisnya dan kemudian sapuan lidahku kugeser ke liang
kewanitaannya, kuhisap cairan bening yang keluar dari liang
kewanitaannya. Kusapukan lidahku dari liang senggamanya menuju ke
duburnya, terus kusapukan lidahku maju mundur.
Selanjutnya kumasukkan ujung lidahku pada lubang kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku. Yuni menggeliat dan dia menggoyangkan
pinggulnya maju mundur dengan sedikit tekanan ke bawah. Dia
mempercepat kulumannya pada batang kemaluanku, sepertinya Yuni akan
mencapai orgasme. Aku semakin mempercepat gerakan ujung lidahku untuk
menari di dalam liang kewanitaannya. Beberapa saat kemudian kedua
kakinya menegang dan dia menghisap batang kemaluanku dengan cukup
keras, kemudian aku merasakan cairan gurih telah menetes menuju
lidahku, aku terus melanjutkan gerakan lidahku sampai kedua pahanya
berhenti menegang. Yuni melepaskan hisapan batang kemaluanku dan dia
terkulai di paha kiriku, sementara lidahku terus menyapu bagian dalam
liang kewanitaannya hingga cairan yang keluar dari liang
kewanitaannya habis.
Beberapa saat kemudian aku bangun dan duduk bersandar pada papan
tempat tidur. Saat itu kulihat Yuni kelelahan dengan posisi tidur
tengkurap dan titik-titik air yang tadinya ada pada tubuh Yuni kini
berganti dengan titik-titik keringat sehingga terlihat pada pantatnya
yang putih dan kencang. Kemudian Yuni duduk di sampingku sambil
tersenyum dan tangan kirinya mengusap batang kemaluanku yang telah
berdiri tegak. Selanjutnya dia mencium bibirku dan dilanjutkan dengan
mencium leherku sambil tangan kirinya terus mempermainkan batang
kemaluanku.
Setelah selesai mencium leherku, kemudian mulutnya mulai mendekati
batang kemaluanku dan dia memulai sapuan lidahnya pada prostat-ku,
kemudian secara sangat perlahan dia naikkan menuju ujung batang
kemaluanku, agak geli tetapi sungguh sangat nikmat sekali. Gerakan
itu dia lakukan berulang-ulang hingga sekitar lima menit.
Selanjutnya dia mulai dengan mengulum ujung batang kemaluanku dan
melepaskannya untuk menyapukan lidahnya di sekitar kulit batang
kemaluanku. Gerakan itu juga dia lakukan berulang-ulang hingga
beberapa menit kemudian kutekan kepalanya agar batang kemaluanku
dapat masuk lebih dalam lagi ke dalam mulutnya, kemudian kuangkat dan
kubenamkan lagi sampai pada akhirnya ujung batang kemaluanku
mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Tanpa kusuruh, dia masih
terus mengulum batang kemaluanku dan menggerakkan mulutnya ke atas
dan ke bawah, hingga kulihat spermaku menetes menuju prostat-ku,
mungkin dengan gerakan seperti itu Yuni tidak dapat menghisap
spermaku. Setelah sperma yang keluar telah banyak, dia melepaskan
kulumannnya dan dia sapukan lidahnya untuk membersihkan spermaku yang
tercecer di sekitar prostat-ku dan ada juga yang mengalir ke anus.
Yuni terus mencari-cari ceceran spermaku dengan lidahnya dan kemudian
dia telan.
Setelah selesai dia membersihkan spermaku yang tercecer, dia
melanjutkan dengan mengulum batang kemaluanku yang masih setengah
tegang. Aku biarkan dia terus mengulum batang kemaluanku meskipun
batang kemaluanku telah lunglai. Kulihat kepalanya disandarkan pada
perutku sambil mulutnya terus mengulum batang kemaluankku, aku tetap
mendiamkannya sampai akhirnya aku tahu dia telah tertidur dengan
mulutnya masih mengulum batang kemaluanku. Karena aku capek duduk,
perlahan kulepaskan batang kemaluanku dari mulutnya, dia menggeliat
tetapi matanya masih tertutup, sepertinya dia sangat capek sekali.
Aku pindah tidurnya ke tengah tempat tidur, kurubah posisi tidurnya
dari tengkurap menjadi telentang. Karena aku juga sangat capek,
akhirnya aku juga tertidur di sisinya sambil memeluknya.
Beberapa jam kemudian aku merasakan kerongkonganku sangat kering, aku
terbangun dan langsung menuju ke dispenser yang berada di sudut
ruangan. Setelah aku meminum beberapa teguk air dingin, aku kembali
menuju tempat tidur. Saat aku akan kembali ke tempat tidur, aku
melihat tubuh Yuni yang telanjang tidur dengan telentang. Dengan
rambut yang sedikit acak-acakan, wajahnya yang sangat manis masih
terlelap tidur. Aku terus memandangi tubuhnya yang indah, payudaranya
yang tidak terlalu besar tetapi terlihat sangat kencang dengan puting
susu yang berwarna coklat muda sangat enak dipandang. Perut dan
pinggulnya yang terlihat sangat serasi dibalut kulit putih mulus
sangat indah. Kaki kanannya lurus sedangkan kaki kirinya ditekuk
sehingga liang kewanitaannya yang ditutupi bulu-bulu halus terlihat
dengan jelas. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan, begitu
sempurna tubuhnya. Aku tak bosan-bosan memandang tubuhnya, hampir 15
menit aku terpana memandang tubuhnya. Tanpa terasa adik kecilku mulai
bergerak, dia mulai bangun dan ingin dibelai.
Kudekati Yuni yang masih terlelap, kusapukan lidahku pada bibirnya
yang mungil dengan sangat perlahan. Yuni membuka matanya yang masih
memerah, "Ah.. kenapa Mas, aku capek sekali, besok pagi aja Mas",
kata Yuni pelan. "Maaf Yun kalo aku ganggu kamu, kamu tidur lagi aja,
aku bisa sendiri kok tapi boleh kan aku sentuh kamu?" kataku. Kulihat
Yuni mengangguk sambil tersenyum kecil, dia membuka lebar kedua
pahanya hingga liang kewanitaannya tampak lebih jelas terlihat.
Begitu melihat liang kewanitaannya yang merekah, aku langsung
menyapukan ujung lidahku pada klitorisnya dan kulanjutkan pada liang
kewanitaannya. Yuni sama sekali tidak bereaksi, tampaknya dia sangat
capek hingga tertidur lagi. Aku terus mempermainkan liang
kewanitaannya dengan lidahku.
Sepuluh menit kemudian aku bangun dan kucium bibirnya, Yuni menarik
nafas panjang. Kupegang kedua tangannya dengan kedua tanganku dengan
posisi tangan di atas kepala, selanjutnya aku langsung menindih tubuh
Yuni dan karena kedua pahanya masih terbuka lebar, aku merhasil
menyelipkan pinggulku di antara kedua pahanya. Saat itu kulihat Yuni
terkejut dan membuka kedua matanya. "Mas.. Mas mau apa..?" katanya
sedikit keras namun tertahan. Aku tidak memperdulikannya, aku
berusaha mencium bibirnya tetapi dia meronta, sehingga ciumanku
kutujukan ke lehernya yang putih. Dia semakin meronta, dan tanganku
semakin erat memegang kedua tangannya. Yuni terus meronta dengan
mengerak-gerakkan pingulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi percuma, aku
jauh lebih kuat darinya. Tapi dia terus meronta sampai akhirnya dia
pasrah, begitu gerakannya melemah aku berusaha memasukkan batang
kemaluanku pada liang kewanitaannya, cukup sulit aku memasukkan
batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, sampai sekitar 5 menit
kemudian aku berhasil menemukan lubang kenikmatannya.
Kumasukkan batang kemaluanku secara perlahan, saat aku memasukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya dia meronta lagi
dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi ujung
batang kemaluanku telah masuk cukup dalam ke dalam liang
kewanitaannya hingga aku merasakan batang kemaluanku telah menembus
sesuatu yang sangat kecil. Aku terus memasukkan batang kemaluanku
lebih dalam lagi sampai semua batang kemaluanku tenggelam. Saat itu
aku melihat Yuni memejamkan mata dan dia menggigit bibirnya yang
bawah dengan giginya yang tampak putih berjajar rapi. Aku terus
menggerakkan batang kemaluanku maju mundur keluar masuk liang
kewanitaannya, sedangkan mulutku menghisap payudaranya bergantian.
Aku merasakan seluruh batang kemaluanku seperti ditekan-tekan tetapi
rasanya sangat hangat.
Sekitar 10 menit aku memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang
kewanitaannya, sampai akhirnya kukeluarkan sperma yang sejak dari
tadi kutahan. Kulihat spermaku keluar dari liang kewanitaannya tetapi
warnanya telah bercampur dengan bercak-bercak darah, tidak terlalu
banyak memang darah yang keluar, lain dengan Novi (pacarku red) yang
saat itu sangat banyak darahnya.
Setelah itu aku lunglai di atas tubuh Yuni yang telah diam tidak
bergerak dengan kepalaku berada di sisi kepalanya. Beberapa menit
kemudian aku merasakan setitik air membasahi telingaku, aku terbangun
dan kulihat setitik air keluar dari sisi kedua matanya yang masih
terpejam. Saat itu baru aku sadar jika Yuni telah menangis, ya
Tuhan.. Yuni menangis dengan menggigit bibirnya. Saat itu aku
langsung merengkuh dan merangkul tubuhnya dengan erat, beberapa kali
aku ucapkan kata maaf. "Kenapa.. kenapa kamu melakukan ini..?" Yuni
berkata sambil menangis. Aku terus merangkul tubuhnya yang masih
telanjang dengan erat sambil aku terus memohon maaf, tapi Yuni tidak
memperdulikannya dia terus menagis dan berusaha melepaskan pelukanku.
Setelah aku melepaskan pelukanku, dia langsung tidur dengan tengkurap
tetapi masih sesekali kudengar isakan tangisnya. Kudekati dia dan
kubelai rambutnya, "Maaf Yun, aku lepas kontrol, sungguh aku tidak
menduga kamu begitu terpukul dengan apa yang sudah aku lakukan. Kamu
boleh memaki aku, kamu boleh memukul aku, tapi aku mohon kamu jangan
menagis, aku sayang kamu, aku akan bertanggung jawab jika kamu
menginginkannya, apa saja yang kamu inginkan aku akan penuhi, tapi
tolong kamu mau maafin aku" Tak terasa air mataku juga telah mengalir
saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku merasa sangat menyesal telah
melakukan hal itu kepada Yuni.
Beberapa saat setelah aku mengucapkan kalimat itu, kepala Yuni
menoleh ke arahku. "Baik Mas, aku akan meminta satu permintaan untuk
kamu, tapi tolong untuk saat ini kamu jangan ganggu aku, aku ingin
tidur, aku akan katakan permintaanku besok jika kita udah pulang",
dia berkata dengan suara serak dan sedikit berat. Aku hanya
mengangguk dan aku tidak mendengar lagi isakan tangisnya.
Malam itu aku sama sekali tidak dapat tidur, kupandangi tubuh Yuni
yang tengkurap dan terlihat sedang tidur. Aku tidak berani
menyentuhnya, saat kuperhatikan pada pantatnya terlihat bercak darah
bercampur dengan spermaku. Aku beranikan diri untuk membersihkannya
dengan sapu tanganku yang telah terlebih dahulu kubasahi dengan air
hangat yang kuambil dari dispenser. Dengan sangat perlahan aku
membersihkan pantat dan pahanya dari spermaku, kulihat Yuni masih
tertidur. Tetapi tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dan dia berganti
posisi untuk telentang, untung dia masih tertidur. Selanjutnya aku
kembali membersihkan spermaku yang membasahi rambut dan liang
kewanitaannya juga dengan sangat hati-hati agar Yuni tidak terbangun,
tetapi tanpa kusadari Yuni telah membuka matanya dan dia memandangiku
dan memperhatikan apa yang sedang kuperbuat. Aku langsung
menghentikan tanganku yang masih membersihkan rambut di liang
kewanitaannya.
"Kamu nggak perlu melakukan itu Mas, udahlah aku juga salah kok, aku
maafin kamu" Yuni berkata sambil menatap wajahku yang sejak tadi
menunduk. Saat aku mendengar kalimat itu rasanya telah hilang semua
perasaanku yang sejak tadi kutahan.
"Terima kasih Yun, terima kasih kamu udah mau maafin aku", kataku
terpatah-patah.
"Sudahlah, sekarang Mas tidur saja, besok Mas harus setir mobil,
pinggangku sakit sekali", Yuni berkata sambil menarik lenganku.
Beberapa jam kemudian aku terbangun, kulihat Yuni masih tertidur.
Dengan hati-hati aku bangun dan kukecup keningnya dan aku berjalan
menuju kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi kuambil pakaianku yang
kulepas di sisi tempat tidur. Saat aku akan mengambil pakaianku,
kulihat Yuni terbangun dan dengan susah payah dia bangkit. Aku
langsung menghampirinya dan kubantu dia untuk berdiri.
"Kamu mau mandi Yun, ayo aku antar", kataku.
"Iya.. tapi aduh.. pinggangku sakit sekali Mas.." katanya.
"Kalau begitu aku mandiin ya.. aku janji nggak akan ngapa-ngapain
kamu lagi", kataku.
Dia mengangguk, kemudian kubopong dia menuju kamar mandi dan
kududukkan di atas kloset duduk lalu kubersihkan seluruh tubuhnya.
Karena saat itu aku belum berpakaian, maka aku juga ikut mandi lagi.
Setelah kami pulang, dalam perjalanan aku bertanya tentang
permintaannya yang dikatakannya tadi malam. Seperti disambar petir
rasanya saat dia berkata "Aku punya satu permintaan yang sebenarnya
untukku juga sangat berat, tetapi itu harus kamu lakukan karena itu
janjimu kemarin. Aku minta Mas tidak lagi menghubungi aku lagi, aku
nggak bisa ngasih alasan dan tolong jangan tanya mengapa, itulah
permintaanku". Aku hanya bengong tidak dapat berkata apa-apa.
Kuantarkan dia sampai ujung gang, karena itu permintaannya dan
setelah Vitara putih itu masuk ke dalam gang, aku kembali menuju
jalan besar dan pulang naik taksi. Empat hari kemudian kuberanikan
diri untuk menghubunginya, siapa tahu dia berubah pikiran. Saat aku
hubungi melalui HP-nya, tidak pernah aktif dan kucoba menghubungi
rumahnya ternyata yang menerima kakaknya dan mengatakan kalau Yuni
pulang ke Surabaya dan katanya tidak mau diganggu oleh siapapun.
Sepuluh hari kemudian aku mendapat email dan mengatakan kalau saat
itu ia berada di Melbourne dan akan kuliah di sana. Selain itu dia
juga menceritakan panjang lebar tentang alasannya tidak mau bertemu
aku lagi. Akhirnya kusadari dan kumaklumi alasannya. Dalam hati aku
sering berpikir, seandainya aku tidak memperkosanya, aku pasti masih
sering bercumbu dengannya. Sampai jumpa Yuni.
sapukan lidahnya dari kepala batang kemaluan sampai pada pangkalnya
berulang ulang. Aku hanya merintih menahan nikmat, aku heran juga
kenapa dia nggak capek ya.. Yuni terus memainkan lidahnya sambil
sesekali mengulum kepala batang kemaluanku. Kuakui kulumannya sangat
nikmat karena batang kemaluanku masuk cukup jauh ke dalam mulutnya.
Setelah beberapa saat aku menahannya, akhirnya "Akhh.. aku mau
keluar", ucapku sambil meremas payudaranya dan maniku keluar memenuhi
mulutnya dan sebagian membasahi wajahnya yang manis. Setelah menelan
maniku yang ada di dalam mulutnya, dia melanjutkan mengulum dan
membersihkan batang kemaluanku yang basah dengan lidahnya. Sampai
batang kemaluanku melemas pun dia masih terus mengulumnya sampai
batang kemaluanku terasa geli. Karena kegelian, kusuruh dia
melepaskan kulumannya. Kemudian kuangkat dagunya hingga wajahnya
berhadapan denganku, masih terlihat sisa-sisa maniku di sisi kiri
bibirnya yang mungil menetes ke dagunya. Kuusap maniku yang membasahi
hidung dan pipinya dengan jariku dan akan kuusapkan pada CD-nya,
tetapi dia ingin menelannya, sehingga jari-jariku dilumatnya hingga
mani yang kupegang habis. Sepertinya dia sangat menyukai maniku, enak
kali ya..
Sepertinya dia kelelahan, dia berbaring telentang menatapku dengan
tanpa selembar kainpun menutupi tubuhnya. Kupandangi lagi tubuhnya
yang telanjang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat titik-
titik keringat keluar dari sekujur tubuhnya, terlihat semakin indah.
Aku menarik nafas panjang dan kucium bibirnya yang mungil, masih
terasa sisa-sisa maniku di bibirnya, terasa gurih tetapi lebih kental
dari maninya.
Saat kulihat sudah pukul 10.30 malam, aku segera berpakaian,
mematikan komputer dan pamit pulang. Dengan malas diapun bangkit dan
mengenakan dasternya tanpa memakai CD dan BH.
"Mas uang kekurangannya belum aku siapkan, mau tunggu sebentar?",
katanya.
"Ah.. besok saja udah malam nih takut ditanya macam-macam sama
satpam", kataku.
Sebenarnya maksudku adalah agar aku dapat datang lagi dan main
dengannya seperti yang baru saja kami lakukan. Untuk yang terakhir
kalinya pada malam itu kucium bibirnya. Aku start mobilku dan
meninggalkan rumahnya. Dalam perjalanan aku heran juga, bagaimana dia
bisa mempertahankan keperawanannya jika dia sudah bermain sejauh itu.
Dalam hati aku yakin jika suatu saat nanti dia akan mennyerahkan
keperawanannya padaku.
Semenjak kejadian malam itu aku selalu teringat dengannya. Hampir aku
tidak percaya jika aku pernah bercumbu dengan seorang WNI keturunan
yang berwajah sangat manis. Tetapi karena kesibukanku ikut tender,
aku jadi belum sempat menghubungi Yuni. Kejadian ini berlangsung
empat hari setelah malam yang indah itu.
Sore itu sekitar jam 15.30 aku baru datang dari luar kota. Aku ke
kantor dan menyerahkan berkas-berkas dan revisi penawaran kepada dua
orang temanku, sedangkan aku langsung masuk ke ruang service dan
tidur. Seperempat jam kemudian aku mendengar seorang temanku
berkata, "Wah Doel, ada makhluk cakep datang.. ck.. ck.. ck.. indah
bener nih cewek". Karena aku sangat capek, aku tidak begitu
menggubrisnya dan aku tetap tidur sampai salah seorang temanku
membangunkanku. "Hai Doel.. bangun.. dicari makhluk indah tuh.." kata
temanku sambil menendang pelan kakiku. Oh ya, aku mendirikan toko
komputer bersama dua orang temanku, dan kami sama-sama memanggil
dengan julukan Doel.
"Siapa sih.. aku capek banget nih.." kataku sambil bangkit untuk
duduk.
"He.. Doel, Yuni itu WNI keturunan ya.. mana cakepnya selangit lagi,
kok kamu diam aja sih", umpat temanku.
Tahu kalau yang datang Yuni, hilang semua rasa capekku, segera aku
keluar untuk menemuinya.
"Hai Yun pa kabar.. sorry nih beberapa hari ini aku sibuk banget",
sapaku.
"Ah.. aku yang sorry nih baru ngelunasi sekarang", katanya.
"Iya.. iya.. udah selesai udah aku urusin, mendingan sekarang kamu
tidur lagi aja", sahut temanku sambil ketawa.
"Bagaimana, ada masalah dengan komputernya, kamu udah daftar belum?"
tanyaku.
"Nggak ada masalah dengan komputernya, tapi aku belum daftar",
jawabnya.
"Sekarang kamu mau ke mana, aku anterin daftar mau nggak", ajakku.
Dia mengangguk, kedua temanku cuma bengong melihat aku sudah sangat
akrab dengannya.
"Pakai mobilku aja nggak apa-apa Mas", katanya.
"Sebentar, aku cuci muka dulu ya", sahutku sambil berjalan ke
belakang.
Selesai cuci muka aku titipkan mobilku pada salah seorang temanku.
"Heh.. Doel, mau pergi ke mana kamu?" tanya temanku setelah aku
menyerahkan kunci mobilku padanya.
"Alah.. udah kamu jalan-jalan yang jauh sana pake mobilku, ini urusan
orang dewasa, kamu nggak boleh ikut-ikut", kataku sambil mengajak
Yuni keluar.
Permisi Mas.." kata Yuni sambil keluar menuju pintu.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanyaku setelah selesai daftar.
"Nggak tahu, terserah Mas aja", katanya.
"Kakak kamu ada di rumah nggak?" tanyaku.
"Ada, emangnya kenapa?" dia balik bertanya.
"Nggak, aku cuma kangen ama kamu", kataku sambil tersenyum.
"Aku juga kangen ama Mas.. eh nama Mas siapa sih, aku malah belum
tahu nama Mas", katanya.
"Iya ya.. kita udah sangat akrab tapi kamu belum tahu namaku, namaku
Fafa", jawabku sambil aku memegang tangan kirinya.
"Kita ke mana nih.. Mas?" tanyanya sambil melambatkan laju mobilnya.
"Kalo misalnya kita nginap boleh nggak sama kakakmu?" kataku agak
ragu.
"Ya.. coba aku telpon dulu mungkin boleh asal Mas diam, jangan sampai
suara Mas kedengeran sama kakakku, eh memangnya kita mau nginap di
mana sih Mas", tanyanya sambil menepi dan menghentikan mobilnya.
"Kita sewa villa saja di Tawang Mangu", jawabku.
Yuni mengeluarkan HP dari tasnya dan meghubungi kakaknya. Setelah aku
tahu kalau kakaknya mengijinkan, aku sangat senang sekali dan mulai
dari jalan itu gantian aku yang pegang setir karena jalannya sempit
dan berliku-liku.
Satu jam kemudian aku sampai di lereng Gunung Lawu tersebut.
"Mas pernah sewa villa di sini ya?" tanya Yuni.
"Belum tuh, mungkin kita bisa tanya di rumah makan itu sambil kita
makan, aku udah lapar nih", kataku sambil menghentikan mobil ke
sebuah rumah makan. Untungnya pemilik rumah makan tersebut juga
menyewakan villa yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah makan
tersebut.
Keinginanku untuk bercumbu dengannya mengalahkan ongkos sewa villa
yang lumayan tinggi yaitu 200 ribu per malam. Sebuah rumah mungil
dengan dua kamar tidur yang masing-masing terdapat sebuah kamar
mandi. Saat kami masuk ke villa yang berada di tepi sebuah bukit
tersebut, matahari hampir terbenam. Kami memilih satu kamar yang
meghadap langsung ke tebing. "Aku mandi dulu ya.." kataku sambil
melepaskan semua pakaianku dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat aku
membersihkan badanku dengan sabun, kulihat pintu kamar mandi yang
memang tidak kukunci telah terbuka. Kulihat Yuni telah telanjang
menyusulku masuk ke dalam kamar mandi. "Ikutan mandi ya Mas", katanya
sambil mendekatiku. Kulihat tubuhnya yang sintal dan padat terbalut
kulit putih bersih dengan dua buah bukit yang menggantung sangat
indah.
Dia mendekatiku dan mengusap wajahku dengan jari-jarinya yang lentik,
tampak air telah membasahi rambutnya. Setelah semua tubuhnya basah
oleh air, dia mematikan kran shower. Selanjutnya dia meraih sabun
yang masih kupegang. Aku diam ingin tahu apa yang ingin dia lakukan,
dengan sabun di tangannya dia mulai menelusuri lekuk-lekuk tubuhku.
Dari leher, dada, punggung, perut, batang kemaluan sampai ujung
kakiku dia gosok lembut dengan sabun. Kulihat batang kemaluanku telah
tegang, saat Yuni masih menggosok betisku, kutarik tangannya perlahan
agar dia berdiri. Setelah wajahnya berhadapan dengan wajahku,
kudekati bibirnya, kucium dengan hidungku, dan lidahku aku sapukan di
kulit bibirnya yang mungil. Dia hanya terpejam, selanjutnya lidahku
mulai kupermainkan di dalam mulutnya, dia membalas dengan menghisap
lidahku.
Aku melepaskan ciumanku, kuraih sabun yang masih di pegangnya.
Sekarang gantian aku yang menggosok seluruh tubuhnya. Mulai dari
leher dan ketika sampai pada payudaranya, kuputar-putarkan sabun di
sekitar payudaranya sambil sesekali kuremas dengan lembut.
Selanjutnya usapanku mulai mendekati sekitar liang kewanitaannya, aku
sapukan sabun di sekitar paha bagian dalam dan juga ke rambut
kemaluannya yang masih lembut.
Setelah selesai aku meratakan sabun di seluruh tubuhnya, kini kuraih
kran shower dan kuputar perlahan. Dengan guyuran air, kulumat
bibirnya dan kemudian ciumanku aku turunkan di payudaranya. Kuhisap
lembut kedua payudaranya secara bergantian, terlihat dia merapatkan
pelukannya sambil mendesis keenakan. Perlahan ciumanku berjalan
menuju ke liang kewanitaannya, kuhisap-hisap liang kewanitaannya
sambil lidahku masuk menerobos lubang yang sangat sempit itu. Karena
aku risih dengan air yang mengalir pada liang kewanitaannya, kuputar
kran sehingga air berhenti mengguyur tubuhnya. Setelah air berhenti
mengalir, kulanjutkan mempermainkan liang kewanitaannya. Kujilati
pahanya bagian dalam dan di sekitar liang kewanitaannya. Kudengar
Yuni merintih dan dia naikkan kaki kirinya di atas pundakku. Kini aku
dapat melihat dengan jelas lubang kenikmatannya yang terlihat sangat
kecil dengan bibir berwarna merah hati.
Kemudian kudekatkan mulutku di liang kewanitaannya dan kusapukan
lidahku di sekitar klitorisnya sambil sesekali kuhisap klitorisnya.
Kupindah sapuan lidahku dari klitoris menuju ke liang kewanitaannya,
kini pada lubang kemaluannya telah terasa agak asin. Aku terus
memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku ke atas dan ke bawah. Yuni mulai
terangsang hebat, dia menggerak-gerakkan pinggulnya sambil menekannya
ke bawah sehingga lidahku masuk lebih dalam lagi di liang
kewanitaannya. Sambil kupermainkan lidahku, kuhisap cairan bening
yang keluar dari liang kewanitaannya. Dia semakin cepat menggoyangkan
pinggulnya sambil tangannya menekan kepalaku, hingga aku hampir tidak
dapat bernafas. Aku tahu kalau dia hampir mencapai orgasme, hingga
kutarik lidahku dari liang kewanitaannya. Aku ingin kami mencapai
organsme untuk yang pertama secara bersama-sama.
Saat kutarik lidahku dari liang kewanitaannya, kulihat Yuni terkejut
dan sepertinya dia agak kecewa. "Nanti kita sama-sama saja Yun biar
tambah asyik", kataku sambil tersenyum dan Yuni hanya tersenyum
kecut, sepertinya dia sangat kesal sekali. Kemudian aku berdiri dan
kucium bibirnya, dia hanya diam tidak memberikan respon. Kurasa dia
sedikit marah aku menggagalkan orgasmenya. Kasihan juga aku
melihatnya, selanjutnya kubopong dia ke tempat tidur dan kurebahkan
dia telentang, terlihat titik-titik air masih memenuhi tubuhnya yang
sangat indah.
Selanjutnya kucium bibirnya dengan lembut, dan kulanjutkan dengan
menyapukan lidahku di sekitar lehernya sambil kupermainkan
payudaranya dengan tangan kananku, sedangkan tanganku yang kiri
mengangkat tangan kanannya. Aku masih ingat ketika aku mencumbu di
sekitar ketiaknya yang mulus itu, dia sangat menikmatinya. Kemudian
sapuan lidahku kugeser menuju payudaranya sebelah kanan, sedangkan
payudara sebelah kiri masih kupermainkan dan sesekali aku meremasnya
dengan tangan kananku. Sambil kuhisap puting susunya, tanganku yang
kiri membelai dan mengelus ketiaknya. Selanjutnya sapuan lidahku
kugeser menuju ketiaknya yang sangat putih dan terlihat bersih. Aku
jilati dan sesekali kuhisap ketiaknya, kulihat dia mendesah keras,
sepertinya dia sangat menikmatinya. Tangan kananku kuturunkan menuju
pahanya, kuraba pahanya dengan lembut dan belaianku kulanjutkan ke
liang kewanitaannya. Kubelai-belai liang kewanitaannya dengan lembut
sambil sesekali kutusukkan ujung jariku ke dalam liang kewanitaannya,
terasa basah. Yuni semakin mengeliat dan menggerak-gerakkan kedua
kakinya.
Setelah aku tahu dia telah terangsang hebat, kutindih dia dan kulumat
lagi bibirnya. Kupegang kedua tangannya dan aku berusaha menusukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya. Yuni meronta sambil
merapatkan kedua pahanya sehingga batang kemaluanku tidak berhasil
menembusnya. "Kita main seperti dahulu saja Mas", bisiknya. Dengan
terpaksa kulepaskan kedua tangannya dan aku mengambil gaya seperti
dahulu yaitu gaya 69, tetapi kali ini aku meminta dia berada di
atasku.
Saat dia berada di atasku, kulihat daerah liang kewanitaannya merekah
dengan bibir berwarna merah hati dan lubang kemaluannya berwarna
merah muda. Tanpa pikir panjang kusapukan lidahku ke arah klitorisnya
sambil kuhisap dengan pelan. Aku merasakan dia mulai mengulum batang
kemaluanku dengan lembut, saat batang kemaluanku masuk ke dalam
mulutnya, terasa sangat hangat dan nikmat sekali. Aku terus menghisap
klitorisnya dan kemudian sapuan lidahku kugeser ke liang
kewanitaannya, kuhisap cairan bening yang keluar dari liang
kewanitaannya. Kusapukan lidahku dari liang senggamanya menuju ke
duburnya, terus kusapukan lidahku maju mundur.
Selanjutnya kumasukkan ujung lidahku pada lubang kemaluannya sambil
kupermainkan ujung lidahku. Yuni menggeliat dan dia menggoyangkan
pinggulnya maju mundur dengan sedikit tekanan ke bawah. Dia
mempercepat kulumannya pada batang kemaluanku, sepertinya Yuni akan
mencapai orgasme. Aku semakin mempercepat gerakan ujung lidahku untuk
menari di dalam liang kewanitaannya. Beberapa saat kemudian kedua
kakinya menegang dan dia menghisap batang kemaluanku dengan cukup
keras, kemudian aku merasakan cairan gurih telah menetes menuju
lidahku, aku terus melanjutkan gerakan lidahku sampai kedua pahanya
berhenti menegang. Yuni melepaskan hisapan batang kemaluanku dan dia
terkulai di paha kiriku, sementara lidahku terus menyapu bagian dalam
liang kewanitaannya hingga cairan yang keluar dari liang
kewanitaannya habis.
Beberapa saat kemudian aku bangun dan duduk bersandar pada papan
tempat tidur. Saat itu kulihat Yuni kelelahan dengan posisi tidur
tengkurap dan titik-titik air yang tadinya ada pada tubuh Yuni kini
berganti dengan titik-titik keringat sehingga terlihat pada pantatnya
yang putih dan kencang. Kemudian Yuni duduk di sampingku sambil
tersenyum dan tangan kirinya mengusap batang kemaluanku yang telah
berdiri tegak. Selanjutnya dia mencium bibirku dan dilanjutkan dengan
mencium leherku sambil tangan kirinya terus mempermainkan batang
kemaluanku.
Setelah selesai mencium leherku, kemudian mulutnya mulai mendekati
batang kemaluanku dan dia memulai sapuan lidahnya pada prostat-ku,
kemudian secara sangat perlahan dia naikkan menuju ujung batang
kemaluanku, agak geli tetapi sungguh sangat nikmat sekali. Gerakan
itu dia lakukan berulang-ulang hingga sekitar lima menit.
Selanjutnya dia mulai dengan mengulum ujung batang kemaluanku dan
melepaskannya untuk menyapukan lidahnya di sekitar kulit batang
kemaluanku. Gerakan itu juga dia lakukan berulang-ulang hingga
beberapa menit kemudian kutekan kepalanya agar batang kemaluanku
dapat masuk lebih dalam lagi ke dalam mulutnya, kemudian kuangkat dan
kubenamkan lagi sampai pada akhirnya ujung batang kemaluanku
mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Tanpa kusuruh, dia masih
terus mengulum batang kemaluanku dan menggerakkan mulutnya ke atas
dan ke bawah, hingga kulihat spermaku menetes menuju prostat-ku,
mungkin dengan gerakan seperti itu Yuni tidak dapat menghisap
spermaku. Setelah sperma yang keluar telah banyak, dia melepaskan
kulumannnya dan dia sapukan lidahnya untuk membersihkan spermaku yang
tercecer di sekitar prostat-ku dan ada juga yang mengalir ke anus.
Yuni terus mencari-cari ceceran spermaku dengan lidahnya dan kemudian
dia telan.
Setelah selesai dia membersihkan spermaku yang tercecer, dia
melanjutkan dengan mengulum batang kemaluanku yang masih setengah
tegang. Aku biarkan dia terus mengulum batang kemaluanku meskipun
batang kemaluanku telah lunglai. Kulihat kepalanya disandarkan pada
perutku sambil mulutnya terus mengulum batang kemaluankku, aku tetap
mendiamkannya sampai akhirnya aku tahu dia telah tertidur dengan
mulutnya masih mengulum batang kemaluanku. Karena aku capek duduk,
perlahan kulepaskan batang kemaluanku dari mulutnya, dia menggeliat
tetapi matanya masih tertutup, sepertinya dia sangat capek sekali.
Aku pindah tidurnya ke tengah tempat tidur, kurubah posisi tidurnya
dari tengkurap menjadi telentang. Karena aku juga sangat capek,
akhirnya aku juga tertidur di sisinya sambil memeluknya.
Beberapa jam kemudian aku merasakan kerongkonganku sangat kering, aku
terbangun dan langsung menuju ke dispenser yang berada di sudut
ruangan. Setelah aku meminum beberapa teguk air dingin, aku kembali
menuju tempat tidur. Saat aku akan kembali ke tempat tidur, aku
melihat tubuh Yuni yang telanjang tidur dengan telentang. Dengan
rambut yang sedikit acak-acakan, wajahnya yang sangat manis masih
terlelap tidur. Aku terus memandangi tubuhnya yang indah, payudaranya
yang tidak terlalu besar tetapi terlihat sangat kencang dengan puting
susu yang berwarna coklat muda sangat enak dipandang. Perut dan
pinggulnya yang terlihat sangat serasi dibalut kulit putih mulus
sangat indah. Kaki kanannya lurus sedangkan kaki kirinya ditekuk
sehingga liang kewanitaannya yang ditutupi bulu-bulu halus terlihat
dengan jelas. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan, begitu
sempurna tubuhnya. Aku tak bosan-bosan memandang tubuhnya, hampir 15
menit aku terpana memandang tubuhnya. Tanpa terasa adik kecilku mulai
bergerak, dia mulai bangun dan ingin dibelai.
Kudekati Yuni yang masih terlelap, kusapukan lidahku pada bibirnya
yang mungil dengan sangat perlahan. Yuni membuka matanya yang masih
memerah, "Ah.. kenapa Mas, aku capek sekali, besok pagi aja Mas",
kata Yuni pelan. "Maaf Yun kalo aku ganggu kamu, kamu tidur lagi aja,
aku bisa sendiri kok tapi boleh kan aku sentuh kamu?" kataku. Kulihat
Yuni mengangguk sambil tersenyum kecil, dia membuka lebar kedua
pahanya hingga liang kewanitaannya tampak lebih jelas terlihat.
Begitu melihat liang kewanitaannya yang merekah, aku langsung
menyapukan ujung lidahku pada klitorisnya dan kulanjutkan pada liang
kewanitaannya. Yuni sama sekali tidak bereaksi, tampaknya dia sangat
capek hingga tertidur lagi. Aku terus mempermainkan liang
kewanitaannya dengan lidahku.
Sepuluh menit kemudian aku bangun dan kucium bibirnya, Yuni menarik
nafas panjang. Kupegang kedua tangannya dengan kedua tanganku dengan
posisi tangan di atas kepala, selanjutnya aku langsung menindih tubuh
Yuni dan karena kedua pahanya masih terbuka lebar, aku merhasil
menyelipkan pinggulku di antara kedua pahanya. Saat itu kulihat Yuni
terkejut dan membuka kedua matanya. "Mas.. Mas mau apa..?" katanya
sedikit keras namun tertahan. Aku tidak memperdulikannya, aku
berusaha mencium bibirnya tetapi dia meronta, sehingga ciumanku
kutujukan ke lehernya yang putih. Dia semakin meronta, dan tanganku
semakin erat memegang kedua tangannya. Yuni terus meronta dengan
mengerak-gerakkan pingulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi percuma, aku
jauh lebih kuat darinya. Tapi dia terus meronta sampai akhirnya dia
pasrah, begitu gerakannya melemah aku berusaha memasukkan batang
kemaluanku pada liang kewanitaannya, cukup sulit aku memasukkan
batang kemaluanku pada liang kewanitaannya, sampai sekitar 5 menit
kemudian aku berhasil menemukan lubang kenikmatannya.
Kumasukkan batang kemaluanku secara perlahan, saat aku memasukkan
batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya dia meronta lagi
dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, tetapi ujung
batang kemaluanku telah masuk cukup dalam ke dalam liang
kewanitaannya hingga aku merasakan batang kemaluanku telah menembus
sesuatu yang sangat kecil. Aku terus memasukkan batang kemaluanku
lebih dalam lagi sampai semua batang kemaluanku tenggelam. Saat itu
aku melihat Yuni memejamkan mata dan dia menggigit bibirnya yang
bawah dengan giginya yang tampak putih berjajar rapi. Aku terus
menggerakkan batang kemaluanku maju mundur keluar masuk liang
kewanitaannya, sedangkan mulutku menghisap payudaranya bergantian.
Aku merasakan seluruh batang kemaluanku seperti ditekan-tekan tetapi
rasanya sangat hangat.
Sekitar 10 menit aku memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang
kewanitaannya, sampai akhirnya kukeluarkan sperma yang sejak dari
tadi kutahan. Kulihat spermaku keluar dari liang kewanitaannya tetapi
warnanya telah bercampur dengan bercak-bercak darah, tidak terlalu
banyak memang darah yang keluar, lain dengan Novi (pacarku red) yang
saat itu sangat banyak darahnya.
Setelah itu aku lunglai di atas tubuh Yuni yang telah diam tidak
bergerak dengan kepalaku berada di sisi kepalanya. Beberapa menit
kemudian aku merasakan setitik air membasahi telingaku, aku terbangun
dan kulihat setitik air keluar dari sisi kedua matanya yang masih
terpejam. Saat itu baru aku sadar jika Yuni telah menangis, ya
Tuhan.. Yuni menangis dengan menggigit bibirnya. Saat itu aku
langsung merengkuh dan merangkul tubuhnya dengan erat, beberapa kali
aku ucapkan kata maaf. "Kenapa.. kenapa kamu melakukan ini..?" Yuni
berkata sambil menangis. Aku terus merangkul tubuhnya yang masih
telanjang dengan erat sambil aku terus memohon maaf, tapi Yuni tidak
memperdulikannya dia terus menagis dan berusaha melepaskan pelukanku.
Setelah aku melepaskan pelukanku, dia langsung tidur dengan tengkurap
tetapi masih sesekali kudengar isakan tangisnya. Kudekati dia dan
kubelai rambutnya, "Maaf Yun, aku lepas kontrol, sungguh aku tidak
menduga kamu begitu terpukul dengan apa yang sudah aku lakukan. Kamu
boleh memaki aku, kamu boleh memukul aku, tapi aku mohon kamu jangan
menagis, aku sayang kamu, aku akan bertanggung jawab jika kamu
menginginkannya, apa saja yang kamu inginkan aku akan penuhi, tapi
tolong kamu mau maafin aku" Tak terasa air mataku juga telah mengalir
saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku merasa sangat menyesal telah
melakukan hal itu kepada Yuni.
Beberapa saat setelah aku mengucapkan kalimat itu, kepala Yuni
menoleh ke arahku. "Baik Mas, aku akan meminta satu permintaan untuk
kamu, tapi tolong untuk saat ini kamu jangan ganggu aku, aku ingin
tidur, aku akan katakan permintaanku besok jika kita udah pulang",
dia berkata dengan suara serak dan sedikit berat. Aku hanya
mengangguk dan aku tidak mendengar lagi isakan tangisnya.
Malam itu aku sama sekali tidak dapat tidur, kupandangi tubuh Yuni
yang tengkurap dan terlihat sedang tidur. Aku tidak berani
menyentuhnya, saat kuperhatikan pada pantatnya terlihat bercak darah
bercampur dengan spermaku. Aku beranikan diri untuk membersihkannya
dengan sapu tanganku yang telah terlebih dahulu kubasahi dengan air
hangat yang kuambil dari dispenser. Dengan sangat perlahan aku
membersihkan pantat dan pahanya dari spermaku, kulihat Yuni masih
tertidur. Tetapi tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dan dia berganti
posisi untuk telentang, untung dia masih tertidur. Selanjutnya aku
kembali membersihkan spermaku yang membasahi rambut dan liang
kewanitaannya juga dengan sangat hati-hati agar Yuni tidak terbangun,
tetapi tanpa kusadari Yuni telah membuka matanya dan dia memandangiku
dan memperhatikan apa yang sedang kuperbuat. Aku langsung
menghentikan tanganku yang masih membersihkan rambut di liang
kewanitaannya.
"Kamu nggak perlu melakukan itu Mas, udahlah aku juga salah kok, aku
maafin kamu" Yuni berkata sambil menatap wajahku yang sejak tadi
menunduk. Saat aku mendengar kalimat itu rasanya telah hilang semua
perasaanku yang sejak tadi kutahan.
"Terima kasih Yun, terima kasih kamu udah mau maafin aku", kataku
terpatah-patah.
"Sudahlah, sekarang Mas tidur saja, besok Mas harus setir mobil,
pinggangku sakit sekali", Yuni berkata sambil menarik lenganku.
Beberapa jam kemudian aku terbangun, kulihat Yuni masih tertidur.
Dengan hati-hati aku bangun dan kukecup keningnya dan aku berjalan
menuju kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi kuambil pakaianku yang
kulepas di sisi tempat tidur. Saat aku akan mengambil pakaianku,
kulihat Yuni terbangun dan dengan susah payah dia bangkit. Aku
langsung menghampirinya dan kubantu dia untuk berdiri.
"Kamu mau mandi Yun, ayo aku antar", kataku.
"Iya.. tapi aduh.. pinggangku sakit sekali Mas.." katanya.
"Kalau begitu aku mandiin ya.. aku janji nggak akan ngapa-ngapain
kamu lagi", kataku.
Dia mengangguk, kemudian kubopong dia menuju kamar mandi dan
kududukkan di atas kloset duduk lalu kubersihkan seluruh tubuhnya.
Karena saat itu aku belum berpakaian, maka aku juga ikut mandi lagi.
Setelah kami pulang, dalam perjalanan aku bertanya tentang
permintaannya yang dikatakannya tadi malam. Seperti disambar petir
rasanya saat dia berkata "Aku punya satu permintaan yang sebenarnya
untukku juga sangat berat, tetapi itu harus kamu lakukan karena itu
janjimu kemarin. Aku minta Mas tidak lagi menghubungi aku lagi, aku
nggak bisa ngasih alasan dan tolong jangan tanya mengapa, itulah
permintaanku". Aku hanya bengong tidak dapat berkata apa-apa.
Kuantarkan dia sampai ujung gang, karena itu permintaannya dan
setelah Vitara putih itu masuk ke dalam gang, aku kembali menuju
jalan besar dan pulang naik taksi. Empat hari kemudian kuberanikan
diri untuk menghubunginya, siapa tahu dia berubah pikiran. Saat aku
hubungi melalui HP-nya, tidak pernah aktif dan kucoba menghubungi
rumahnya ternyata yang menerima kakaknya dan mengatakan kalau Yuni
pulang ke Surabaya dan katanya tidak mau diganggu oleh siapapun.
Sepuluh hari kemudian aku mendapat email dan mengatakan kalau saat
itu ia berada di Melbourne dan akan kuliah di sana. Selain itu dia
juga menceritakan panjang lebar tentang alasannya tidak mau bertemu
aku lagi. Akhirnya kusadari dan kumaklumi alasannya. Dalam hati aku
sering berpikir, seandainya aku tidak memperkosanya, aku pasti masih
sering bercumbu dengannya. Sampai jumpa Yuni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar