Nama saya Don, kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di
Bandung. Cerita ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah
menyelesaikan Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA
Parahyangan. Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di
Stasiun Gambir, saya langsung berjalan menuju halte bus di seberang
stasiun untuk menunggu bus Steady Safe ke arah rumah saya. Di halte
bus, saya melihat seorang cewek SMA yang seksi, putih mulus dan
cantik sekali serta mempunyai payudara yang bisa membuat setiap laki-
laki menelan ludah. Pokoknya boleh dibilang, cewek seperti dia di
kampus saya tidak bakal ketemu deh. Maklum deh, di kampus saya
mayoritas mahasiswanya cowok, apalagi di jurusan saya. Tanpa berpikir
panjang, saya pun berkenalan dengan cewek itu. Namanya Anggie, dan
karena bus jurusan ke rumah saya sudah datang, saya pun langsung
memberi alamat kos saya di Bandung beserta nomer teleponnya.
Keesokan harinya saya bersama ibu dan adik saya berlibur ke Singapore
selama 4 hari. Kami menginap di Orchard Parade Hotel. Di Singapore,
karena berbeda dalam hal selera berbelanja, saya berjalan sendiri,
sedangkan ibu dan adik saya berjalan berdua. Liburan itu hanya saya
isi dengan berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard
sampai Bukit Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami
balik ke Jakarta, dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk
persiapan berangkat Kerja Praktek ke luar pulau.
Pada saat saya tiba di kos saya di Bandung, saya mendapat surat
kiriman dari Anggie, yang intinya menanyakan kapan saya main ke
Jakarta lagi. Keesokan harinya saya langsung balik ke Jakarta lagi,
meskipun ibu saya sampai bingung kenapa nih anak bolak-balik Jakarta-
Bandung. Malamnya saya menelepon Anggie dan kami janjian ketemu di
depan sekolahnya di kawasan Gambir.
Keesokan harinya kami pun bertemu sesuai dengan janji kami. Langsung
saja kami meluncur ke Blok M Plaza. Dalam perjalanan itu, Anggie
berulang kali meletakkan tangannya di paha kiri saya. Saya pun
langsung terangsang, meskipun saat itu saya berpura-pura cuek saja.
Karena saat itu saya memakai jeans, ereksi tersebut membuat saya agak
kesakitan. "Ntar lagi dong, Nggie..., sakit banget nih". Anggie pun
menghentikan rangsangannya sambil tersenyum menertawakan sakit yang
saya rasakan. Sampai di Blok M kami pun berjalan keliling plaza
sambil bergandengan tangan. Setelah sekitar 2 jam, kami kembali ke
mobil.
Sesampainya di mobil, saya menyuruh Anggie agar dia duduk di kursi
belakang saja dengan alasan untuk bercerita dulu. Sambil bercerita
tiba-tiba Anggie meminta saya memangkunya. Kesempatan ini tidak saya
sia-siakan, langsung saja tangan saya membelai rambutnya, meremas
payudaranya, namun pada saat tangan saya meremas kemaluannya, tiba-
tiba Anggie berbalik dengan agresifnya dan langsung saja tangan
kanannya masuk ke dalam CD saya. Kontan saja saya tak berdaya
dibuatnya.
"Don, asyik nggak Don..?", bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
"Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..", balas saya
sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.
Lalu kedua tangannya membuka retsleting jeans-ku serta CD-ku sehingga
saya tinggal mengenakan T-Shirt saja. Merasa terpojok, langsung saja
saat itu juga saya "menggeledah" seragam SMA Anggie, mulai dari
pakaian dan BH-nya, namun saya masih ragu-ragu untuk membuka roknya.
Tangan kami saling berebutan meremas-remas "jantung pertahanan" lawan
sedangkan lidah kami saling berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan.
Tanpa terasa batang kemaluan saya mulai mengembang tegak penuh
rangsangan. Don.., jangan kasar dong..!", kata Anggie kepadaku.
Pada saat tanganku masuk ke CD-nya, terasa mulai banyak cairan yang
baunya baru pertama kali saya rasakan. "Ehggg.., ehhggg.., Don..,
saya ingin jilat anu kamu Don.., cepet Don..!". Tanpa berpikir
panjang langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke mulut Anggie
dan dia pun langsung menikmatinya meskipun agak kewalahan juga.
"Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih.."
"Ntar Don.., jangan dulu..", kata Anggie sambil menutup matanya.
Tapi saya sudah tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Langsung saja saya
menggenjot batang kemaluan saya dengan kencang sehingga mobil tempat
kami "praktikum" bergoyang lumayan hebat. Untung saja orang dalam
mobil di samping sedang asyik berbelanja.
Pada saat itu tangan Anggie langsung memeluk pantat saya, dan jari-
jarinya sekali-kali meremas biji peler saya. Saya pun terus menambah
genjotan saya sampai optimum sehingga Anggie terpaksa setengah
menggigit senjata saya agar tidak lepas. "Mmhhh.., mmhhh..,
mhuuhhh..", seakan-akan Anggie menelan ludahnya sehinga saya merasa
semakin bergairah. Dan tak lama kemudian, "Crot.., ccrrottt..,
crottt.." Sperma saya keluar dan langsung ditelan Anggie sambil
menjilat-jilat batang kemaluan saya.
Kami pun terkulai lemas untuk beberapa saat, karena melihat satpam
Blok M Plaza berjalan ke arah kami, maka kami segera memakai kembali
pakaian kami masing-masing, meskipun dalam hati kecil saya merasa
belum puas karena belum sempat mengulum payudara dan liang kenikmatan
Anggie. Namun Anggie merasa puas sekali dengan permainan yang baru
kami lakukan. Kami pun meninggalkan Blok M Plaza untuk mengantar
Anggie ke arah rumahnya di kawasan Jakarta Timur.
Dalam perjalanan ke rumah Anggie, saya melihat ada satu kompleks
perumahan yang lumayan sepi. Langsung saja saya membelokkan mobil
saya ke arah kompleks itu, Anggie pun kebingungan. Kami berhenti di
bawah sebuar pohon yang rindang di daerah yang sepi dari kompleks itu.
"Nggie.., gue masih ingin Nggie..", bisik saya ke telinga Anggie.
Langsung saja saja cium bibir dan pipinya, hingga pipinya kemerah-
merahan akibat saya cupang. Kemudian ciumanku turun ke leher dan
akhirnya sampai juga di payudaranya.
"Toket loe oke punya Nggie..", ujarku.
Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar
pujianku.
"Rudal kamu juga lumayan kok Don..!", balas Anggie.
Saat itu kedua tangan Anggie hanya bisa memeluk punggung saya karena
tidak berdaya menahan ciuman dan bahkan sesekali gigitan saya.
"Nggie.., loe nungging deh Nggie..", ajak saya.
Anggie pun menurut saja. Dari belakang saya arahkan batang kemaluan
saya ke liang kenikmatannya sedangkan tangan saya meremas kedua
payudaranya dan kaki saya menjepit kakinya. Tampak Anggie kegelian
merasakan bulu-bulu kaki saya yang menjepit kakinya yang mulus itu.
Tangan Anggie pun tampak tidak mau kalah, dia arahkan kedua tangannya
ke punggung saya sehingga kami berdua menyatu erat sekali.
"Oke Nggie.., udah siap say..?", tanyaku mengingatkan Anggie yang
masih mendesah.
"Mulai aja Don.., sapa takut..", jawab Anggie penuh percaya diri.
Mulailah saya lakukan gesekan-gesekan ringan yang membuat Anggie
sesekali mendesah keras. Mobil pun kembali mulai bergoyang hebat.
"Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..", rayu saya padanya.
"Iya Don.., saya tahan kok Don..", sahutnya.
Tanpa terasa keringat di punggung saya terasa begitu panas sehingga
mengganggu "praktikum" kami.
Agar bisa sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke
belakang sehingga kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu
birahi. Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya egois saya karena
semua onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie, sedangkan Anggie
hanya bisa berciuman, itu pun kepalanya berbalik arah. Sesekali agar
Anggie tidak mendesah begitu keras, saya cubit pahanya sehingga dia
tersenyum ringan.
"Ayo Nggie.., lawan saya Nggie", tantang saya sombong pada Anggie.
Anggie pun seakan-akan tak mau kalah, payudaranya mulai mengeras dan
liang kenikmatannya mulai mengeluarkan cairan, namun ciumannya seakan-
akan mulai mengalahkan ciuman saya. Saya pun mulai kewalahan
sekalipun posisi badan saya lebih menguntungkan.
"Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..", bisik saya.
"Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..", teriak Anggie seolah-
olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
Kami pun bercinta dengan gaya kucing di dalam mobil. Genjotan yang
saya lakukan semakin bertambah keras dan kencang sehingga Anggie
seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. "Ahhh.., ahhh.., ahhh..,
auuhhh..", terdengar sayup-sayup genjotan saya pada liang kenikmatan
Anggie. Dan saya pun mulai merasakan bahwa permainan sudah mau
berakhir.
"Don.., enak Don.., tambah lagi Don.., lagi sayaang.., lagiii..!",
teriak Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, " Crot.., croott..,
crooot.., crooottt", keluarlah cairan yang begitu banyak sehingga
permainan berakhir sambil kami tetap terus berciuman. Kami pun
tertidur lagi, dan karena sudah lumayan malam saya mengantar Anggie
pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Anggie kira-kira jam 11 malam. Saya tidak tahu apa
yang dikatakan Anggie kalau orang tuanya menanyakan dari mana saja.
Pakaian seragam Anggie begitu kusut bahkan ada beberapa tetes sperma
saya yang mengenai rok SMA-nya. Saya pun pulang ke rumah dan tiba di
rumah sekitar jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu
yang membukakan pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, menangis
tapi puas betul, pokoknya semua perasaan bercampur baur.
Keesokan harinya saya hanya menelepon Anggie, menanyakan kabarnya.
Saya berpamitan lewat telepon karena besok harus balik ke Bandung dan
selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie menanyakan jam
keberangkatan saya.
Keesokan harinya tepat saat berada di lantai atas stasium Gambir saya
kaget setengah mati, ternyata ada cewek cantik berseragam SMA
menunggu di pinggir kereta Parahyangan. Anggieee..!
Kami pun berciuman di depan umum, kontan semua orang heran melihat
gelagat kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.
Anggie pun mengantarkan saya meletakkan tas saya di dalam kereta. Dan
kami hendak kembali ke luar kereta untuk sekedar ngobrol-ngobrol.
Saat melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena melihat toilet kosong,
otak saya langsung "berpikir efisien" lagi. Segera tangan saya
menyambar tangan putih Anggie sehingga kami berdua masuk ke toilet
yang sempit itu.
"Nggie.., loe masih mau gue cium nggak Nggie", tanya saya.
"Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu",
jawabnya.
Kami pun berciuman di toilet itu lama sekali dengan tangan saling
memeluk mengingat keterbatasan waktu untuk bermain lebih lama lagi.
Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami
berdua sangat panik.
"Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!", kata Anggie.
Kami pun saling merapikan baju kami, dengan deg-degan kami keluar
dari toilet. Langsung saja si pengetuk pintu berteriak, "Busyet dah
nih orang.., ke WC barengan..!". Kami pun panik sambil pura-pura
tidak mendengar padahal banyak sekali orang yang melihat kejadian itu.
Kereta pun berangkat ke Bandung. Kami hanya bisa saling memandang
saat kereta mulai bergerak seakan-akan masih belum puas atas hasil
kerja keras kami. Sesampainya di Bandung saya masih sering melamun di
kamar kos bahkan di kampus, seandainya saat ini Anggie menari bugil
di depan saya. Kami pun hanya saling telepon, terlebih lagi pada saat
saya kerja praktek di luar pulau.
Sekembalinya kerja praktek, saya pernah hendak membeli koran di dekat
tempat parkir motor di kampus. Tanpa sengaja ada anak remaja cewek
yang membeli sebuah majalah remaja. Saya mencuri-curi melihat isi
majalah tersebut saat cewek itu sedang membaca majalah tersebut. Ya
Tuhan.., ternyata Anggie menjadi profil di halaman muka majalah itu.
Malamnya saya interlokal ke Jakarta menanyakan hal tersebut. Ternyata
hal tersebut sudah berlangsung lama, Anggie memang seorang model di
majalah tersebut bahkan pernah membintangi iklan bedak di televisi
(sekarang tidak lagi). Saya saat itu merasa bingung sendiri, mengapa
baru tahu sekarang, maklumlah meskipun di kos-kosan saya ada televisi
namun kalau ada iklan saya tidak terlalu memperhatikannya.
Sekarang ini sudah setahun kejadian itu berlangsung. Kalau saya
sedang di Jakarta, seringkali saya menelepon Anggie dan menjemputnya,
namun kami tidak melakukan seperti yang sudah-sudah. Kami "hanya"
beradu ciuman di tempat parkir Mall (paling sering Pondok Indah
Mall). Yang kalah dalam adu ciuman harus mentraktir di sebuah
restoran Itali di PIM. Skor sampai dengan saat saya mengetik tulisan
ini masih 3-2 untuk keunggulan Anggie. Doakan agar saya dapat
menyamakan kedudukan
Fucking My English Teacher
Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas
keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan
fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa
bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.
Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan
guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu
Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat
menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga
lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab
sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah
kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya
adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya
tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus
pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil
menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.
Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas
sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir
jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah
lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun
mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana
rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika
Ibu Shinta memanggilku.
"Kenapa Jack"
"Ah.. tidak apa-apa", jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat
merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di
sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
"Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan", kata Ibu Shinta.
"Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya", jawabku dengan
ragu-ragu.
"Terima kasih Jack".
Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku
suka kepadanya, "Oh my God what i'm doing", dalam hatiku. Ternyata
keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar
dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta
ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya
pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami
berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan
kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam
kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan
bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa
tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan
cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga,
Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.
Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya
dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak
mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan
kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya
yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas
kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan
tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang.
Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing
bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat.
Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat
besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat
seksi.
Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah
telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-
lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga
badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, "Jack
kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya
dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan
birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan.
Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke
Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan
merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya.
Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang
amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal
pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga
besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian
sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.
"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku
erat-erat.
"Ooo... oh.. oh..", desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai
bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan
meski masih dibatasi celana dalam.
Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat
rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris
yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut
yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir
kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan
melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus
mengangkat-angkat pinggulnya. "Aahh... Kau pintar sekali. Belajar
dari mana hh..."
Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya
menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi
maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya,
meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di
rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak
tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan
diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh
kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara
kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab.
Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak
menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia
telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini
dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih
mulus.
"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu Shinta pun melucuti
kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang
tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di
atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke
selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun
lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta
mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir
lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak
naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.
"Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang
kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi
lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang
kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya..,
Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku sambil menciumi
payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku
dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua
payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku
tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja
membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.
Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah
ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku
mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya.
Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta
agak gemetar. "Ohh...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang
kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku
masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin
terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua
payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.
Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke
pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme.
Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. "Ooo... ahh... hmm...
ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan
puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa
saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang
berkeringat. "Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas
meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!" Aku mengatur
badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan
kakinya. "Gaya apa lagi ini?", tanyanya.
Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari
belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan
kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah
dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami
istirahat.
"Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-
tulangku".
"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas payudaranya
yang menggemaskan.
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar
spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku.
Sekarang Ibu Shinta yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.
Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar
memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta
tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian
cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah
nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat
menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa.
Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan
dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan
frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. "Oh Ibu Shinta..,
aku mau keluar nih ahh.." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam
liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks.
Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat
menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks
seperti itu.
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-
puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.
Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan
bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan
sorenya baru bisa kujemput.
Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di
mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat
parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu
Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun
mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah,
dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah
basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. "Uuuhh..,
mmmhh..", Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke
ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.
Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang
dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting
susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi,
berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian
belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak
sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit
kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua
pahanya. "Ehhh..., mmmhh..". Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku
dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali
lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.
"Ooohh.., aduuuhh..". Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika
lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu
rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya
mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat
tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak.
Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya
membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu
Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku
membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-
langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. "Mmmhh..., mmmhh..,
ooohhm..". Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala
kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas
dadanya dan membelai kemaluannya. "Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak..,
teruuuss...", erangku.
Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap
liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang
menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya.
Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa
sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. "Ibu Shinta..,
ooohh.., enaaak.., teruuus", teriakku. Dia mengerti kalau aku mau
keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang
kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam,
lalu.., "Creet.., suuurr.., ssuuur.."
"Oughh.., Jack.., nikmat..", erangnya tertahan karena mulutnya
tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat
akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan
kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, "Crooot.., croott..,
crooot..", banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.
"Aaahkk.., ooough", ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan
masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku
melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma
kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling
membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah
di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan
Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. "Ohm, masuk.., augh..,
masukin"
Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan
Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku
terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan,
tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih
dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, "Aduhhh.., ssshh.., iya..,
terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack"
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu
membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di
atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di
kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan
pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok
payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai
puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan
iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat.
Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti
menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.
Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang,
dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika
aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku
di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan
orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan
tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak
bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
Bandung. Cerita ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah
menyelesaikan Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA
Parahyangan. Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di
Stasiun Gambir, saya langsung berjalan menuju halte bus di seberang
stasiun untuk menunggu bus Steady Safe ke arah rumah saya. Di halte
bus, saya melihat seorang cewek SMA yang seksi, putih mulus dan
cantik sekali serta mempunyai payudara yang bisa membuat setiap laki-
laki menelan ludah. Pokoknya boleh dibilang, cewek seperti dia di
kampus saya tidak bakal ketemu deh. Maklum deh, di kampus saya
mayoritas mahasiswanya cowok, apalagi di jurusan saya. Tanpa berpikir
panjang, saya pun berkenalan dengan cewek itu. Namanya Anggie, dan
karena bus jurusan ke rumah saya sudah datang, saya pun langsung
memberi alamat kos saya di Bandung beserta nomer teleponnya.
Keesokan harinya saya bersama ibu dan adik saya berlibur ke Singapore
selama 4 hari. Kami menginap di Orchard Parade Hotel. Di Singapore,
karena berbeda dalam hal selera berbelanja, saya berjalan sendiri,
sedangkan ibu dan adik saya berjalan berdua. Liburan itu hanya saya
isi dengan berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard
sampai Bukit Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami
balik ke Jakarta, dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk
persiapan berangkat Kerja Praktek ke luar pulau.
Pada saat saya tiba di kos saya di Bandung, saya mendapat surat
kiriman dari Anggie, yang intinya menanyakan kapan saya main ke
Jakarta lagi. Keesokan harinya saya langsung balik ke Jakarta lagi,
meskipun ibu saya sampai bingung kenapa nih anak bolak-balik Jakarta-
Bandung. Malamnya saya menelepon Anggie dan kami janjian ketemu di
depan sekolahnya di kawasan Gambir.
Keesokan harinya kami pun bertemu sesuai dengan janji kami. Langsung
saja kami meluncur ke Blok M Plaza. Dalam perjalanan itu, Anggie
berulang kali meletakkan tangannya di paha kiri saya. Saya pun
langsung terangsang, meskipun saat itu saya berpura-pura cuek saja.
Karena saat itu saya memakai jeans, ereksi tersebut membuat saya agak
kesakitan. "Ntar lagi dong, Nggie..., sakit banget nih". Anggie pun
menghentikan rangsangannya sambil tersenyum menertawakan sakit yang
saya rasakan. Sampai di Blok M kami pun berjalan keliling plaza
sambil bergandengan tangan. Setelah sekitar 2 jam, kami kembali ke
mobil.
Sesampainya di mobil, saya menyuruh Anggie agar dia duduk di kursi
belakang saja dengan alasan untuk bercerita dulu. Sambil bercerita
tiba-tiba Anggie meminta saya memangkunya. Kesempatan ini tidak saya
sia-siakan, langsung saja tangan saya membelai rambutnya, meremas
payudaranya, namun pada saat tangan saya meremas kemaluannya, tiba-
tiba Anggie berbalik dengan agresifnya dan langsung saja tangan
kanannya masuk ke dalam CD saya. Kontan saja saya tak berdaya
dibuatnya.
"Don, asyik nggak Don..?", bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
"Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..", balas saya
sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.
Lalu kedua tangannya membuka retsleting jeans-ku serta CD-ku sehingga
saya tinggal mengenakan T-Shirt saja. Merasa terpojok, langsung saja
saat itu juga saya "menggeledah" seragam SMA Anggie, mulai dari
pakaian dan BH-nya, namun saya masih ragu-ragu untuk membuka roknya.
Tangan kami saling berebutan meremas-remas "jantung pertahanan" lawan
sedangkan lidah kami saling berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan.
Tanpa terasa batang kemaluan saya mulai mengembang tegak penuh
rangsangan. Don.., jangan kasar dong..!", kata Anggie kepadaku.
Pada saat tanganku masuk ke CD-nya, terasa mulai banyak cairan yang
baunya baru pertama kali saya rasakan. "Ehggg.., ehhggg.., Don..,
saya ingin jilat anu kamu Don.., cepet Don..!". Tanpa berpikir
panjang langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke mulut Anggie
dan dia pun langsung menikmatinya meskipun agak kewalahan juga.
"Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih.."
"Ntar Don.., jangan dulu..", kata Anggie sambil menutup matanya.
Tapi saya sudah tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Langsung saja saya
menggenjot batang kemaluan saya dengan kencang sehingga mobil tempat
kami "praktikum" bergoyang lumayan hebat. Untung saja orang dalam
mobil di samping sedang asyik berbelanja.
Pada saat itu tangan Anggie langsung memeluk pantat saya, dan jari-
jarinya sekali-kali meremas biji peler saya. Saya pun terus menambah
genjotan saya sampai optimum sehingga Anggie terpaksa setengah
menggigit senjata saya agar tidak lepas. "Mmhhh.., mmhhh..,
mhuuhhh..", seakan-akan Anggie menelan ludahnya sehinga saya merasa
semakin bergairah. Dan tak lama kemudian, "Crot.., ccrrottt..,
crottt.." Sperma saya keluar dan langsung ditelan Anggie sambil
menjilat-jilat batang kemaluan saya.
Kami pun terkulai lemas untuk beberapa saat, karena melihat satpam
Blok M Plaza berjalan ke arah kami, maka kami segera memakai kembali
pakaian kami masing-masing, meskipun dalam hati kecil saya merasa
belum puas karena belum sempat mengulum payudara dan liang kenikmatan
Anggie. Namun Anggie merasa puas sekali dengan permainan yang baru
kami lakukan. Kami pun meninggalkan Blok M Plaza untuk mengantar
Anggie ke arah rumahnya di kawasan Jakarta Timur.
Dalam perjalanan ke rumah Anggie, saya melihat ada satu kompleks
perumahan yang lumayan sepi. Langsung saja saya membelokkan mobil
saya ke arah kompleks itu, Anggie pun kebingungan. Kami berhenti di
bawah sebuar pohon yang rindang di daerah yang sepi dari kompleks itu.
"Nggie.., gue masih ingin Nggie..", bisik saya ke telinga Anggie.
Langsung saja saja cium bibir dan pipinya, hingga pipinya kemerah-
merahan akibat saya cupang. Kemudian ciumanku turun ke leher dan
akhirnya sampai juga di payudaranya.
"Toket loe oke punya Nggie..", ujarku.
Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar
pujianku.
"Rudal kamu juga lumayan kok Don..!", balas Anggie.
Saat itu kedua tangan Anggie hanya bisa memeluk punggung saya karena
tidak berdaya menahan ciuman dan bahkan sesekali gigitan saya.
"Nggie.., loe nungging deh Nggie..", ajak saya.
Anggie pun menurut saja. Dari belakang saya arahkan batang kemaluan
saya ke liang kenikmatannya sedangkan tangan saya meremas kedua
payudaranya dan kaki saya menjepit kakinya. Tampak Anggie kegelian
merasakan bulu-bulu kaki saya yang menjepit kakinya yang mulus itu.
Tangan Anggie pun tampak tidak mau kalah, dia arahkan kedua tangannya
ke punggung saya sehingga kami berdua menyatu erat sekali.
"Oke Nggie.., udah siap say..?", tanyaku mengingatkan Anggie yang
masih mendesah.
"Mulai aja Don.., sapa takut..", jawab Anggie penuh percaya diri.
Mulailah saya lakukan gesekan-gesekan ringan yang membuat Anggie
sesekali mendesah keras. Mobil pun kembali mulai bergoyang hebat.
"Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..", rayu saya padanya.
"Iya Don.., saya tahan kok Don..", sahutnya.
Tanpa terasa keringat di punggung saya terasa begitu panas sehingga
mengganggu "praktikum" kami.
Agar bisa sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke
belakang sehingga kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu
birahi. Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya egois saya karena
semua onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie, sedangkan Anggie
hanya bisa berciuman, itu pun kepalanya berbalik arah. Sesekali agar
Anggie tidak mendesah begitu keras, saya cubit pahanya sehingga dia
tersenyum ringan.
"Ayo Nggie.., lawan saya Nggie", tantang saya sombong pada Anggie.
Anggie pun seakan-akan tak mau kalah, payudaranya mulai mengeras dan
liang kenikmatannya mulai mengeluarkan cairan, namun ciumannya seakan-
akan mulai mengalahkan ciuman saya. Saya pun mulai kewalahan
sekalipun posisi badan saya lebih menguntungkan.
"Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..", bisik saya.
"Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..", teriak Anggie seolah-
olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
Kami pun bercinta dengan gaya kucing di dalam mobil. Genjotan yang
saya lakukan semakin bertambah keras dan kencang sehingga Anggie
seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. "Ahhh.., ahhh.., ahhh..,
auuhhh..", terdengar sayup-sayup genjotan saya pada liang kenikmatan
Anggie. Dan saya pun mulai merasakan bahwa permainan sudah mau
berakhir.
"Don.., enak Don.., tambah lagi Don.., lagi sayaang.., lagiii..!",
teriak Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, " Crot.., croott..,
crooot.., crooottt", keluarlah cairan yang begitu banyak sehingga
permainan berakhir sambil kami tetap terus berciuman. Kami pun
tertidur lagi, dan karena sudah lumayan malam saya mengantar Anggie
pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Anggie kira-kira jam 11 malam. Saya tidak tahu apa
yang dikatakan Anggie kalau orang tuanya menanyakan dari mana saja.
Pakaian seragam Anggie begitu kusut bahkan ada beberapa tetes sperma
saya yang mengenai rok SMA-nya. Saya pun pulang ke rumah dan tiba di
rumah sekitar jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu
yang membukakan pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, menangis
tapi puas betul, pokoknya semua perasaan bercampur baur.
Keesokan harinya saya hanya menelepon Anggie, menanyakan kabarnya.
Saya berpamitan lewat telepon karena besok harus balik ke Bandung dan
selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie menanyakan jam
keberangkatan saya.
Keesokan harinya tepat saat berada di lantai atas stasium Gambir saya
kaget setengah mati, ternyata ada cewek cantik berseragam SMA
menunggu di pinggir kereta Parahyangan. Anggieee..!
Kami pun berciuman di depan umum, kontan semua orang heran melihat
gelagat kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.
Anggie pun mengantarkan saya meletakkan tas saya di dalam kereta. Dan
kami hendak kembali ke luar kereta untuk sekedar ngobrol-ngobrol.
Saat melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena melihat toilet kosong,
otak saya langsung "berpikir efisien" lagi. Segera tangan saya
menyambar tangan putih Anggie sehingga kami berdua masuk ke toilet
yang sempit itu.
"Nggie.., loe masih mau gue cium nggak Nggie", tanya saya.
"Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu",
jawabnya.
Kami pun berciuman di toilet itu lama sekali dengan tangan saling
memeluk mengingat keterbatasan waktu untuk bermain lebih lama lagi.
Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami
berdua sangat panik.
"Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!", kata Anggie.
Kami pun saling merapikan baju kami, dengan deg-degan kami keluar
dari toilet. Langsung saja si pengetuk pintu berteriak, "Busyet dah
nih orang.., ke WC barengan..!". Kami pun panik sambil pura-pura
tidak mendengar padahal banyak sekali orang yang melihat kejadian itu.
Kereta pun berangkat ke Bandung. Kami hanya bisa saling memandang
saat kereta mulai bergerak seakan-akan masih belum puas atas hasil
kerja keras kami. Sesampainya di Bandung saya masih sering melamun di
kamar kos bahkan di kampus, seandainya saat ini Anggie menari bugil
di depan saya. Kami pun hanya saling telepon, terlebih lagi pada saat
saya kerja praktek di luar pulau.
Sekembalinya kerja praktek, saya pernah hendak membeli koran di dekat
tempat parkir motor di kampus. Tanpa sengaja ada anak remaja cewek
yang membeli sebuah majalah remaja. Saya mencuri-curi melihat isi
majalah tersebut saat cewek itu sedang membaca majalah tersebut. Ya
Tuhan.., ternyata Anggie menjadi profil di halaman muka majalah itu.
Malamnya saya interlokal ke Jakarta menanyakan hal tersebut. Ternyata
hal tersebut sudah berlangsung lama, Anggie memang seorang model di
majalah tersebut bahkan pernah membintangi iklan bedak di televisi
(sekarang tidak lagi). Saya saat itu merasa bingung sendiri, mengapa
baru tahu sekarang, maklumlah meskipun di kos-kosan saya ada televisi
namun kalau ada iklan saya tidak terlalu memperhatikannya.
Sekarang ini sudah setahun kejadian itu berlangsung. Kalau saya
sedang di Jakarta, seringkali saya menelepon Anggie dan menjemputnya,
namun kami tidak melakukan seperti yang sudah-sudah. Kami "hanya"
beradu ciuman di tempat parkir Mall (paling sering Pondok Indah
Mall). Yang kalah dalam adu ciuman harus mentraktir di sebuah
restoran Itali di PIM. Skor sampai dengan saat saya mengetik tulisan
ini masih 3-2 untuk keunggulan Anggie. Doakan agar saya dapat
menyamakan kedudukan
Fucking My English Teacher
Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas
keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan
fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa
bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.
Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan
guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu
Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat
menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga
lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab
sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah
kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya
adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya
tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus
pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil
menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.
Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas
sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir
jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah
lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun
mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana
rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika
Ibu Shinta memanggilku.
"Kenapa Jack"
"Ah.. tidak apa-apa", jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat
merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di
sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
"Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan", kata Ibu Shinta.
"Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya", jawabku dengan
ragu-ragu.
"Terima kasih Jack".
Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku
suka kepadanya, "Oh my God what i'm doing", dalam hatiku. Ternyata
keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar
dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta
ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya
pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami
berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan
kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam
kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan
bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa
tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan
cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga,
Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.
Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya
dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak
mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan
kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya
yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas
kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan
tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang.
Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing
bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat.
Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat
besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat
seksi.
Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah
telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-
lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga
badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, "Jack
kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya
dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan
birahinya yang juga mulai naik.
Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan.
Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke
Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan
merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya.
Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang
amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal
pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga
besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian
sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.
"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku
erat-erat.
"Ooo... oh.. oh..", desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai
bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan
meski masih dibatasi celana dalam.
Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat
rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris
yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut
yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir
kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan
melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus
mengangkat-angkat pinggulnya. "Aahh... Kau pintar sekali. Belajar
dari mana hh..."
Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya
menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi
maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya,
meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di
rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak
tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan
diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh
kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara
kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab.
Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak
menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia
telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini
dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih
mulus.
"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu Shinta pun melucuti
kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang
tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di
atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke
selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun
lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta
mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir
lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak
naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.
"Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang
kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi
lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang
kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya..,
Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku sambil menciumi
payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku
dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua
payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku
tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja
membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.
Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah
ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku
mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya.
Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta
agak gemetar. "Ohh...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang
kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku
masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin
terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua
payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.
Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke
pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme.
Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. "Ooo... ahh... hmm...
ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan
puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa
saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang
berkeringat. "Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas
meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!" Aku mengatur
badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan
kakinya. "Gaya apa lagi ini?", tanyanya.
Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari
belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan
kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah
dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami
istirahat.
"Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-
tulangku".
"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas payudaranya
yang menggemaskan.
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar
spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku.
Sekarang Ibu Shinta yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.
Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar
memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk
tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta
tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian
cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah
nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat
menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa.
Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan
dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan
frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. "Oh Ibu Shinta..,
aku mau keluar nih ahh.." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam
liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks.
Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat
menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks
seperti itu.
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-
puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.
Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan
bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan
sorenya baru bisa kujemput.
Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di
mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat
parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu
Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun
mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah,
dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah
basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. "Uuuhh..,
mmmhh..", Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke
ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.
Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang
dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting
susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi,
berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian
belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak
sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit
kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua
pahanya. "Ehhh..., mmmhh..". Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku
dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali
lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.
"Ooohh.., aduuuhh..". Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika
lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu
rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya
mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat
tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak.
Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya
membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu
Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku
membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-
langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. "Mmmhh..., mmmhh..,
ooohhm..". Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala
kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas
dadanya dan membelai kemaluannya. "Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak..,
teruuuss...", erangku.
Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap
liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang
menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya.
Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa
sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. "Ibu Shinta..,
ooohh.., enaaak.., teruuus", teriakku. Dia mengerti kalau aku mau
keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang
kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam,
lalu.., "Creet.., suuurr.., ssuuur.."
"Oughh.., Jack.., nikmat..", erangnya tertahan karena mulutnya
tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat
akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan
kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, "Crooot.., croott..,
crooot..", banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.
"Aaahkk.., ooough", ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan
masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku
melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma
kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling
membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah
di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan
Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. "Ohm, masuk.., augh..,
masukin"
Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan
Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku
terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan,
tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih
dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, "Aduhhh.., ssshh.., iya..,
terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack"
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu
membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di
atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di
kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan
pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok
payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai
puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan
iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat.
Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti
menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.
Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang,
dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika
aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku
di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan
orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan
tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak
bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar