Rabu, 10 Juli 2013

Mbak Is..IStri muda sekdes..


Kejadian ini kualami ketika aku kuliah kerja nyata di salah satu desa
terpencil di Jawa Tengah. Aku menginap di rumah Sekretaris Desa
tersebut, sudah berumur, sekitar 60 tahun, namun isterinya masih
muda, sekitar 25 tahun, sebut saja Mbak Is.


Pada waktu itu aku kehilangan cucian celana pendek, ketika Mbak Is
selesai mandi dengan memakai handuk yang terbelit menutupi sebagian
tubuhnya, sambil membawa keranjang cucian yang sudah kering, masuk ke
kamarnya yang hanya ditutup dengan korden. Aku mengikutinya, ikut
masuk ke kamar untuk menanyakan apakah dia melihat CD-ku. Begitu
kukuakkan korden kamarnya, aku melihat Mbak Is sudah melepas
handuknya, tanpa sehelai benangpun. Kulitnya kuning, mulus, langsing
dan kencang. Payudaranya berukuran sedang bulat. Aku kaget namun Mbak
Is melihatku dengan tenang. Sambil menutup sebuah payudaranya dengan
telapak tangan kiri, sedangkan telapak tangan yang lain menutup
kemaluannya. Sedangkan payudara yang satunya masih menggantung dengan
bebasnya. Aku sempat memangsa pemandangan yang jarang terjadi ini.

"Ada apa Dik Agus?" tanyanya dengan suara lembut.
"Anu Mbak, nggak. Lihat celana pendek saya nggak, Mbak.."
"Baru dicuci. Ditumpukan itu barangkali, coba saja dicari sendiri Dik
Agus," jawabnya sambil menunjukkan onggokan cucian. Sementara aku
mengaduk-aduk cucian, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tentu
saja payudara dan kemaluannya, walaupun dari samping, cukup jelas
terlihat olehku. Mulanya aku agak tidak enak, tetapi karena Mbak Is
bersikap cuek, maka aku pun nekad menatap secara langsung pamandangan
itu dengan berani.

"Tubuh Mbak Is, masih singset ya," pujiku mesra.
"Ah, Dik Agus bisa aja," katanya dengan tenang, tetapi kemudian ia
tersentak, "Eh, kok liat-liat Mbak, kan saru," bisik Mbak Is
membuyarkan lamunanku.
"Habis, rejeki kan tidak bisa dibiarkan," kataku nyengir.
"Uh, dasar.." kemudian ia cepat-cepat mamakai pakaian.

Jam 8 malam, karena tidak ada hiburan TV, dan suasana sudah sangat
sepi, aku pergi tidur. Pak Sekdes kebetulan sedang menginap di rumah
isteri tuanya. Lampu minyak tempel kuredupkan, dan bersiap untuk
memejamkan mata. Tiba-tiba ada orang masuk ke kamarku. Setelah
kuamati bayangan itu ternyata Mbak Is.

"Dik Agus belum tidur ya," sapanya mesra.
"Belum mbak," sahutku.
"Mbak Is kedingingan nih, nggak bisa tidur," balasnya dan duduk di
tepi tempat tidurku.
"Tidur di sini saja Mbak," ajakku penuh birahi.
"Nggak apa-apa nih," balasnya dengan senyum menggoda.
"Nggak," bisikku.
"Tapi jangan macam-macam ya," katanya sambil tertawa genit.

Kugeser tubuhku ke kanan memberikan ruang bagi Mbak Is berbaring di
sampingku. Mulutku terkunci lagi, karena gejolak yang sangat hebat
berkecamuk di dalam dada ini ketika ia merebahkan tubuhnya di
sampingku. Bau parfumnya membuatku semakin bergejolak.

"Dik Agus sudah pernah melihat perempuan telanjang nggak," akhirnya
Mbak Is membuka percakapan.
"Belum, kalau anak-anak sering, eh maksud saya baru sekali, lihat
Mbak tadi.."
"Apa Mbak masih singset sih?, khan Dik Agus bilang begitu tadi,"
tanyanya manja.
"Iya betul Mbak, betul, seperti di gambar porno saja," jawabku.
"Dik Agus punya foto begituan."
"Punya, sebentar ya saya ambilkan.."

Kuambil majalah berwarna kategori triple X, kubesarkan lampu minyak
di dinding.
"Dik Agus dapat dari mana majalah ini," sambil menerima majalah yang
kuberikan.
"Serem.." komentarnya, tapi matanya terus menatap gambar orang sedang
senggama. Pada gambar lain tampak adegan 69, dimana saling menjilati
kemaluan lawannya.
"Mbak pernah ngisep barangnya Bapak, nggak," tanyaku dengan berani.
"Ah, Dik Agus ada-ada saja, jijik ah," jawabnya pura-pura malu.
"Enak Mbak, seperti ngisep kemaluan, khan enak," kataku lagi
meyakinkan
."Memangnya Dik Agus pernah?" sambil menatap wajahku dalam-dalam,
menjadikan aku gelagapan.
"Belum, cerita teman-teman saya yang sudah kawin. Mbak mau disun
kemaluannya," pancingku nakal.
"Ah Dik Agus ini ada-ada saja, malu ah," Sambil tangannya
menyingkirkan tangan saya yang sudah melingkar di perutnya. Tapi
tanganku kembali merangkul tubuhnya, kali ini agak ke atas dekat
dengan buah dadanya.
"Emang Bapak nggak pernah ngesun barangnya Mbak?" tanyaku.
"Ah, Bapak kan sudah tua, nggak mau yang macem-macem," obrolan yang
semakin menjurus ini menjadikan kemaluanku makin mengeras, sehingga
celanaku terasa semakin sempit.

Aku terus mencari akal agar malam itu tidak terbuang sia-sia. Belum
sempat aku menemukan caranya, tiba-tiba ia menarik tanganku ke atas
sehingga menyentuh buah dadanya yang montok. Aku segera bereaksi dan
mulailah mengelus-elus buah dadanya. Kulihat wajahnya sudah berubah,
nafasnya memburu, kusingkap gaun tidurnya ke atas, dan ia
membiarkannya bahkan melepasnya sendiri. Dan kemudian melepas BH-nya,
sehingga buah dada montoknya yang tadi siang kulihat, kini dapat
kusentuh, kuelus-elus dan kupencet-pencet kekenyalan buah dadanya.
Mbak Is kembali berbaring, bibirnya menyambut dengan hangat ketika
kucium Mbak Is. Sambil berciuman tanganku bergerilya, sampai di
sekitar kamaluannya. Kuelus pahanya dan akhirnya kemaluannya dari
luar celana dalamnya. Mbak Is semakin liar mempermainkan bibirnya dan
lidahnya, melumat habis bibirku. Kuselipkan jariku lewat samping
celana dalamnya meraih liang senggamanya, ternyata sudah basah kuyup.
Bersamaan dengan itu, ia raih pula kemaluanku. Kubantu membuka
celanaku dan semua yang menempel di bajuku.

Dengan kencang ia terus memegang kemaluanku, seakan sudah menjadikan
haknya dan tidak ingin melepaskannya. Sementara aku terus mencium
semua permukaan kulitnya. Sampai pada bukit kembarnya, kuisap,
kusedot dan kujilati puncaknya hingga membuatnya semakin memburu
nafasnya. Begitu kuteruskan jelajahanku ke bawah lepaslah pegangan di
kemaluanku, sampai dipusar dan terus ke bawah sampailah di
selangkangannya. Kulebarkan pahanya, tetapi dia menahannya."Jangan
ah, malu," sambil merapatkan pahanya dan menutupi kemaluannya dengan
tangannya.Aku terus menciumi pahanya, menjilati dan mengecupnya. Lama-
lama makin ke dalam pahanya. Mbak Is mulai mengendorkan kakinya,
kubuka pelan-pelan pahanya. Pelan-pelan pula ia mau membukanya.
Sampai akhirnya rela juga mengangkangkan pahanya dengan lebar,
sehingga membuatku mempunyai ruang yang jelas untuk menyaksikan
pamandangan yang sangat membangkitkan nafsuku itu. Segera kusergap
bagian yang sangat dirahasiakan wanita itu. Begitu lidahku
kupermainkan di bibir kemaluannya sebelah atas. Ia segera menjerit
histeris sambil menjambaki rambutku. Pinggulnya dia angkat tinggi-
tinggi, gerakannya semakin liar sambil mulutnya meneriakkan suara yag
tidak jelas. Kemaluannya semakin basah saja, bercampur dengan ludahku
untuk memberikan kehangatan pada liang senggamanya. Beberap menit
kemudian ia sampai pada puncak yang tertinggi, disertai dengan
lengkingan yang tertahan karena wajahnya ditutupi bantal. Tubuhnya
menegang dan pinggulnya diangkatnya tinggi-tinggi. Beberapa detik
kemudian terkulailah dia.

Selanjutnya kuambil posisi, kuarahkan kejantananku pada liang
kemaluan, pada tubuh yang lunglai itu. Mbak Is diam saja, hanya
sekali-sekali menciumiku. Aku masukkan batang kemaluanku pada liang
senggamanya yang basah kuyup sehingga licin luar biasa. Mbak Is diam
saja ketika kugenjot dengan cepat sehingga buah dadanya tergoncang
kesana kemari. Mbak Is mulai merasakan kenikmatan lagi, makin lama
dahinya makin dikernyitkan pertanda birahinya mulai naik. Tetapi
lahar yang sudah lama kubendung keburu keluar, segera kutarik. Mbak
Is, mulanya menahan bokongku, agar kemaluanku tetap terselit di
lipatan kemaluannya. Tetapi karena tenaganya sudah habis, lepas juga
kemaluannya dan kukocok dengan cepat sehingga muncratlah di atas
perutnya yang indah.

Mbak Is dengan takjub menyaksikan peristiwa muncratnya spermaku. Lalu
tersenyum manis.
"Kok nggak dikelaurin di dalam," tanyanya.
"Nanti kamu hamil," jawabku mesra.
"Paling Bapak juga nggak tahu kalau itu anakmu," jawabnya dengan
enteng.

Sejak saat itu aku jadi jarang pulang, ketika hari Sabtu dan Minggu
kupergunakan mencuri-curi waktu agar bisa bermain dengannya. Apalagi
kalau sedang sepi. Misalnya tidak ada cukup waktu untuk melakukan
senggama, maka ia aku suruh saja mengocok hingga keluar.

Sejak itu sepertinya Mbak Is semakin ceria saja. Sampai selesai waktu
KKN-ku, aku tidak kurang melakukan senggama secara sempurna sebanyak
delapan kali. Tanpa ada seorangpun yang tahu dan curiga. Dan ternyata
ini membawa berkah lain, yang paling menonjol adalah cara Mbak Is
dalam melayani suaminya yang sepertinya berlebihan

Tidak ada komentar: